Cerita Rakyat Aji Saka 5/5 (2)

Ada banyak sekali cerita legenda yang berkembang di provinsi Jawa Tengah. Salah satu legenda yang dapat Anda ceritakan kepada anak-anak adalah cerita rakyat Aji Saka.

Legenda yang cukup populer ini mengisahkan tentang pemuda yang memiliki kesaktian serta sifat yang baik dan bijaksana.

Sebagian besar orang menceritakan kisah ini menggunakan bahasa jawa karena berasal dari Jawa Tengah. Akan tetapi, bagi Anda yang tidak bisa berbahasa jawa tidak perlu khawatir lagi.

Saat ini cerita rakyat Aji Saka telah banyak digunakan dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Cerita Rakyat Aji Saka

Simak Ceritanya

Pada zaman dahulu hiduplah seorang pemuda yang bijaksana, pintar, dan baik hatinya. Pemuda tersebut bernama Aji Saka dan tinggal di Desa Medang Kawit, Jawa Tengah.

Dalam kehidupan sehari-hari pemuda ini selalu menggunakan surban di kepalanya. Aji Saka memiliki dua sahabat yang setia dan baik hati, yaitu Sembada dan Dora.

Kedua sahabat Aji Saka tersebut selalu mengikutinya kemanapun dia pergi.

Hal yang sering Aji Saka, Dora, dan Sembada lakukan adalah berkelana ke berbagai tempat untuk menolong orang-orang yang sedang kesulitan.

Adapun beberapa kisah atau peristiwa besar yang terjadi dalam hidup Aji Saka, yakni:

1. Kisah Prabu Dewata Cengkar

Suatu hari Aji Saka dan kedua sahabatnya sedang jalan-jalan di wilayah pegunungan Kendeng. Mereka mendengar suara teriakan “Tolong….tolong” dari seorang pria.

Aji Saka dan teman-temannya pun segera bergegas mendekati sumber suara tersebut. Ternyata seorang pria yang berteriak tadi sedang dipukuli oleh beberapa preman.

Kemudian Aji Saka dan teman-temannya mencoba menyelamatkan pria yang tengah dipukuli tersebut. Pria tersebut merupakan seorang pria yang tinggal di Desa Mendang Kamulan.

Desa Mendang Kamulan merupakan desa yang dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Dewata Cengkar. Awalnya raja tersebut memiliki sifat yang baik hati.

Akan tetapi, raja tersebut tiba-tiba berubah menjadi raja yang kejam. Salah satu contoh kekejaman Prabu Dewata Cengkar ialah suka memakan daging manusia.

Sifat tersebut bermula ketika ada seorang juru masak di istana yang terluka tangannya saat memasak sup.

Tanpa sengaja darah sang juru masak tersebut masuk ke dalam sup dan dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar. Namun, sang raja justru menyukai sup tersebut.

Sejak saat itu Prabu Dewata Cengkar gemar memakan darah manusia dan sifatnya berubah menjadi bengis.

Mendengar cerita tentang Desa Mendang Kamulan dari kakek yang ditolong Aji Saka pun bergegas ingin menemui Prabu Dewata Cengkar. Akan tetapi, Aji Saka pergi ke Desa Kamulan hanya bersama Dora saja.

Sembada diperintah oleh Aji Saka untuk tetap tinggal di pegunungan Kendeng untuk menyimpan dan menjaga keris saktinya.

Ketika hampir sampai di Desa Mendang Kamulan, Aji Saka menyuruh Dora untuk tidak mengikutinya lagi. 

Ketika sampai Aji Saka bertemu dengan Patih Jugul Muda yang sedang mencari mangsa untuk dijadikan makanan sang raja.

Kemudian Aji Saka mengatakan kepada patih tersebut bahwa ia bersedia untuk menjadi mangsa Prabu Dewata.

2. Mengelabuhi Prabu Dewata Cengkar

Peristiwa yang menarik dari cerita rakyat Aji Saka yang selajutnya ialah saat mengelabuhi Prabu Dewata Cengkar. Tanpa pikir panjang, Patih Jugul Muda langsung membawa Aji Saka untuk menemui sang raja.

Aji Saka tidak terlihat takut sama sekali meskipun Prabu Dewata Cengkar terlihat sangat kelaparan. Ia mengajukan sebuah syarat kepada sang raja sebelum memakannya.

Awalnya Prabu Dewata Cengkar tidak mau memenuhi syarat tersebut apabila sulit dilakukan. Syarat yang diajukan oleh Aji Saka ialah meminta tanah seluas surban yang biasa ia kenakan.

Mendengar syarat yang mudah tersebut, Prabu Dewata Cengkar langsung mengiyakan dan merasa senang karena akan memakan daging manusia.

Kemudian Aji Saka melepaskan surban yang ia pakai dan memberikan kepada Prabu Dewata Cengkar. Aji Saka pun berkata “Coba pegang ujung surban saya dan silahkan Paduka membentangkannya”

Tidak disangkan bahwa surban tersebut ternyata sangat besar dan panjang. Ketika kain tersebut dibentangkan oleh sang raja, seolah-olah tidak ada putusnya.

Kain surban tersebut membentang dari istana hingga mencapai sungai, hutan, lembah-lembah, dan gunung.

Hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh wilayah kerajaan harus menjadi milik Aji Saka jika Prabu Dewata memakannya. Oleh karena itu, Prabu Dewata marah dan bergegas untuk menyerang Aji Saka.

Dengan cekatan, Aji Saka langsung melilit sang raja dengan surban yang sangat panjang tersebut. Setelah itu Aji Saka melempar raja yang bengis tersebut ke Laut Selatan sehingga raja tersebut mati.

3. Aji Saka Menjadi Raja Medang Kamulan

Berita kematian Prabu Dewata Cengkar membuat seluruh rakyat di Desa Kamulan merasa sangat senang.

Sebagian besar yang kabur dari desa tersebut kembali lagi untuk merayakan kematian sang raja yang keji. Seluruh rakyat setuju jika Aji Saka dijadikan raja yang memimpin Desa Medang Kamulan.

Kemudian Aji Saka meminta Dora untuk menjadi tangan kanannya. Aji Saka pun memerintah dora untuk menemui Sembada yang sedang berada di pegunungan Kendeng menjaga keris sakti.

Dora diminta untuk mengambil dan membawa keris sakti tersebut kepada Aji Saka yang telah menjadi raja.

Sesampainya di pegunungan Kendeng, Dora menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sembada.

Akan tetapi, Sembada yang masih setia menjaga setia itu enggan menyerahkan keris saktinya kepada Dora.

Sembada ingat perkataan Aji Saka bahwa keris sakti itu tidak boleh diberikan kepada siapapun kecuali Aji Saka sendiri. Meskipun Dora sudah menjelaskan dan membujuk, namun Sembada tidak goyak.

Ia tetap bersikukuh untuk menjalankan amanat Aji Saka. Begitu pula dengan Dora yang terus bersikeras meminta keris sakti tersebut.

Perselisihan antara Dora dengan Sembada tersebut menyebabkan mereka bertarung. Aji Saka pun merasa heran mengapa teman yang ia utus untuk mengambil keris tidak kunjung kembali.

Kemudian ia bergegas untuk menyusul Dora ke pegunungan Kendeng. Ketika sudah sampai di pegunungan Kendeng, Aji Saka sangat terkejut melihat kedua sahabatnya telah tewas.

Aji Saka pun menyadari bahwa sahabatnya tewas dikarenakan mereka sama-sama melaksanakan tugas darinya.

Selain cerita rakyat Aji Saka di atas, mungkin kamu juga tertarik membaca cerita berikut:

Analisis Unsur Intrinsik Cerita

Setelah mengetahui cerita rakyat Aji Saka, sebaiknya Anda juga memahami unsur-unsur intriksik di dalamnya. Berikut beberapa unsur intrinsiknya:

1. Tema

Tema Cerita

Tema merupakan ide, gagasan atau pikiran utama yang menjadi dasar dari sebuah karya sastra. Gagasan utama dari cerita rakyat Aji Saka adalah tentang kebaikan, keberanian, dan juga kesetiaan.

2. Latar

Analisis Latar

Dalam cerita ini, latar tempat adalah di pegunungan Kendeng dan Desa Mendang Kamulan. Sedangkan latar waktunya pada pagi, siang, dan malam hari.

3. Tokoh

Penokohan

Dalam Cerita Rakyat Aji Saka ini terdapat beberapa tokoh, yaitu Aji Saka, Dora, Sembada, Prabu Dewata Cengkar, Patih Jugul Muda, dan seorang kakek.

Dari berbagai tokoh tersebut tentunya memiliki watak yang berbeda-beda.

Aji Saka merupakan pemeran utama yang mempunyai watak baik hati, pemberani, dan bijaksana.

Hal ini dibuktikan dengan tingkah lakunya yang gemar menolong orang-orang menggunakan kesaktian yang ia miliki.

Pemeran utama juga berani ketika melawan raja atau Prabu Dewata Cengkar yang keji. Oleh sebab itu, Aji Saka memperoleh kepercayaan dari warga Desa Mendang Kamulan untuk menjadi seorang raja.

Dora dan Sembada merupakan sahabat Aji Saka yang memiliki watak setia dan mampu memegang amanat dengan baik. Sedangkan Prabu Dewata Cengkar adalah tokoh antagonis dalam legenda ini.

Prabu Dewata Cengkar mempunyai watak yang bengis dan kejam. Adapun seorang kakek tua yang merupakan tokoh pendukung dalam kisah Aji Saka.

Diceritakan bahwa kakek tua tersebut merupakan orang yang lemah karena usianya yang sudah tidak muda.

Patih Jugul Muda memiliki sifat yang setia meskipun kesetiaannya dianggap buruk. Ia tetap menjalankan perintah raja meskipun sikap rajanya telah berubah menjadi kejam.

4. Alur

Alur Cerita

Alur cerita yang digunakan dalam kisah Aji Saka ini merupakan alur maju. Hal ini dikarenakan ceritanya runtut mulai dari Aji Saka melakukan perjalanan hingga kedua sabahatnya meninggal.

5. Sudut Pandang

Sudut pandang Cerita

Sudut pandang dalam legenda ini adalah sudut pandang orang ketiga karena penulis menceritakan orang lain.

6. Amanat / Pesan Moral

Pesan dalam cerita

Ada beberapa amanat yang dapat diambil dalam Cerita Rakyat Aji Saka. Salah satu amanatnya adalah pentingnya berbuat kebaikan dan menolong orang lain. 

7. Majas

Analisis Majas

Majas merupakan gaya bahasa yang digunakan oleh penulis agar pesan atau informasi yang disampaikan dalam lebih imajinatif.

Salah satu majas yang digunakan dalam cerita tentang Aji Saka tersebut adalah majas metafora. 

Majas metafora adalah majas yang menyamakan sebuah objek dengan pesan yang disampaikan penulis. Hal ini dibuktikan dalam kalimat “Kemudian Aji Saka meminta Dora untuk menjadi tangan kanannya”

Unsur Ekstrinsik Cerita Rakyat Aji Saka

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang membentuk cerita yang asalnya dari luar. Adapun unsur ekstrinsik dalam cerita ini di tilik dari budaya yakni, sebagai berikut.

Budaya yang ditunjukkan oleh masyarakat dalam Cerita Rakyat Aji Saka tersebut ialah egois yang tinggi, kurangnya kepedulian, dan tidak saling tolong menolong.

Hampir setiap warga dalam cerita ini mementingkan diri sendiri.

Sekian pembahasan cerita rakyat aji saka ini, jika kamu mau membaca cerita rakyat yang lain, silahkan klik disini.

Nilai Kualitas Artikel

Leave a Comment