Cerita Rakyat Asal Usul Kali Gajah Wong

Yogyakarta menyimpan banyak legenda tentang beberapa tempat yang cukup terkenal. Salah satunya adalah Kali Gajah Wong.

Bagi sebagian orang, mungkin Kali Gajah Wong hanya terlihat sungai biasa pada umumnya, namun tersimpan cerita rakyat asal usul Kali Gajah Wong yang patut disimak.

Secara garis besar, Kali Gajah Wong pada zaman dahulu kala adalah sebuah sungai yang digunakan oleh para abdi dalem Kerajaan Mataram untuk memandikan gajah.

Konon Sultan Kerajaan Mataram memang memiliki gajah yang dirawat oleh seorang abdi dalem.

Cerita Rakyat Asal Usul Kali Gajah Wong

Simak Kisahnya

1. Masa Keraton Mataram

Sejauh 7 kilometer arah tenggara Kota Yogyakarta, konon tersebutlah sebuah Keraton Mataram di wilayah Kotagede. Keraton ini sangat megah dan dipimpin oleh Sultan Agung.

Keraton Mataram ini mempunyai ribuan prajurit berkuda dan pasukan gajah. Ada salah satu abdi dalem yang sangat setia kepada Sultan Agung, abdi itu bernama Ki Sapa Wira.

Tugasnya adalah merawat dan memandikan salah satu gajah yang bernama Kyai Dwipannga. Gajah ini merupakan gajah milik Sultan Agung yang berasal dari Negeri Siam.

Suatu hari, Ki Sapa Wira mengalami cidera pada tangannya sehingga tidak bisa memandikan Kyai Dwipangga.

“Aku harus memandaikan Kyai Dwipangga, tapi bagaimana caranya, tanganku cidera dan sangat sakit?” Ucap Ki Sapa Wara.

Pada saat itu datang adik ipar Ki Sapa Wira yang bernama Ki Kerti Peyok.

Tidak sengaja dia mendengar keluhan sang kakak, “Ada apa gerangan mas, kenapa terlihat sedih?” Sebenarnya memiliki nama asli Ki Kerti Kertayuda.

Karena sejak lahir terkena polio dan berjalan pincang, akhirnya dipanggil Ki Kerti Peyok.

“Tanganku sakit setelah terkena pisau, aku bingung karena tidak bisa memandikan Kyai Dwipangga” Ujar Ki Sapa Wira dengan sedih.

“Bagaimana jika aku saja yang memandikannya mas?” Tanya Ki Kerti Peyok. Akhirnya permintaan sang adik ipar diiyakan juga. 

“Terima kasih adikku telah membantuku. Tolong mandikan Kyai Dwipangga dengan baik.

Tepuk kaki belakangnya secara perlahan jika dia tidak mau berendam. Jangan kamu tarik buntutnya”. Ucap Ki Sapa Wira memberikan arahan.

2. Pertama Kali Ki Kerti Peyok Memandikan Kyai Dwipangga

Kyai Dwipangga dibawa ke sungai untuk dimandikan. Ki Kerti Peyok terkejut melihat gajah yang amat besar. Ini juga pertama kali memandikan gajah.

Melihat Kyai Dwipangga, dia bergumam, “tubuhmu bersih sekali, gadingmu putih mengkilat. Kakakku sangat pandai merawatmu.”

Sebelum dimandikan, Kyai Dwipangga diberikan dua butir kelapa untuk sarapannya. “Apakah kamu sangat lapar? Bahkan kelapa ini sangat cepat kamu lahab habis.” Ujar Ki Kerti Peyok.

Setelah menghabiskan kelapa tersebut, segera Ki Kerti Peyok memandikan gajah tersebut.

Ki Kerti Peyok melaksanakan apa yang diperintahkan oleh kakaknya. Dia menepuk kaki belakang gajah dengan pelan agar mau berendam. Badannya juga digosok perlahan dan lembut.

Setelah selesai Kyai Dwipangga digiring ke tempat panas agar cepat kering.

Menjelang sore, Ki Kerti Peyok membawanya pulang ke Keraton Mataram. “Mas, aku sudah memandikan Kyai Dwipangga hingga bersih” Kata Ki Kerti Peyok pada Ki Sapa Wira.

“Terima kasih adikku, ini ada sedikit upah untukmu.” Ucap Ki Sapa Wira.

3. Tangan Ki Sapa Wira Belum Sembuh

Rupanya tangan Ki Sapa Wira belum juga sembuh, akhirnya dia memutuskan untuk meminta tolong lagi ke Ki Kerti agar memandikan Kyai Dwipangga.

Untungnya Ki Kerti Peyok bersedia menjalankan tugas tersebut. Cuaca hari ini berbeda, langit mendung. Ki Kerti Peyok tetap membawa Kyai Dwipangga untuk dimandikan di sungai.

Ternyata air sungainya menyusut dan dangkal. Agar bisa dimandikan dengan bersih, Ki Kerti membawa Kyai Dwipangga agak ke tengah sungai.

“Aku mandikan Kyai Dwipangga di sini saja, walau agak ke tengah sungai tapi airnya tidak dalam. Kenapa Kanjeng Sultan mewajibkan gajahnya dimandikan di sungai kecil ini?” Gumam Ki Kerti.

Ketika mulai menggosok tubuh sang gajah, hujan lebat turun tiba-tiba. Mendadak banjir bandang datang. Ki Kerti memegang Kyai Dwipangga namun tidak kuasa menahan arus sungai yang sangat deras.

Mereka pun hanyut. Ki Kerti mencoba berteriak dan melambaikan tangan, namun tidak ada seorangpun yang mendengar.

Arus yang terlalu deras membawa tubuh Ki Kerti dan Kyai Dwipangga hingga ke Laut Selatan. Mereka akhirnya mati karena tidak mendapatkan pertolongan.

Sultan Agung kemudian menamai sungai tersebut dengan nama Kali Gajah Wong untuk mengenangnya. Makna dari nama Kali Gajah Wong karena sungai tersebut telah menghanyutkan seekor gajah dan orang.

Hingga kini, Kali Gajah Wong masing digunakan oleh masyarakat sekitar untuk beraktivitas. Bahkan banyak yang menghuni sepanjang sungai.

Selain cerita rakyat di atas, mungkin kamu juga tertarik membaca cerita berikut:

Analisis Unsur Intrinsik Cerita

Setelah membaca keseruan cerita diatas, berikut kita membahas lebih dalam mengenai unsur intrinsik yang terkandung dalam cerita.

Adapun unsur intrinsik cerita Asal Usul Kali Gajah Wong adalah sebagai berikut:

1. Tema

Analisis Tema Cerita

Legenda asal usul kali gajah wong ini mengambil tema tentang cikal bakal atau asal usul munculnya Kali Gajah Wong.

Cerita tentang Kyai Dwipangga, gajah milik Sultan Keraton Mataram yang hanyut bersama abdi dalem saat dimandikan.

Gajah dan sang abdi dalem hanyut ketika banjir bandang datang, tubuhnya terbawa hingga pantai selatan dan mati disana.

Agar peristiwa tersebut terus dikenang akhirnya kali itu dinamakan Kali Gajah Wong.

2. Latar

Latar Cerita

Cerita ini menggunakan beberapa latar. Beberapa latar atau tempat yang ada dalam cerita Kali Gajah Wong antara lain Keraton Mataram, kediaman Ki Sapa Wira, sungai kecil di dekat Keraton Mataram, dan juga Laut Selatan.

Untuk latar waktu adalah zaman dahulu pada masa pemerintahan Sultan Agung. Masa ini adalah masa Keraton Mataram yang ada di Yogyakarta.

3. Tokoh

Penokohan

A. Ki Sapa Wira

Adalah seorang abdi dalem yang dipercaya oleh Sultan Agung untuk memandikan gajah Keraton Mataram yang bernama Kyai Dwipangga.

Ki Sapa Wira merupakan tokoh protagonis dalam cerita rakyat asal usul Kali Gajah Wong ini.

Perwatakan Ki Sapa Wira adalah orang yang lembut dan telaten. Sifatnya yang lembut tersebut membuat gajah besar seperti Kyai Dwipangga menurut padanya.

Ki Sapa Wira juga orang yang berhati-hati dan teliti.

B. Ki Kerti Peyok

Merupakan adik ipar Ki Sapa Wira. Dia memiliki kelainan pada kakinya karena penyakit polio yang diderita ketika masih lahir.

Walaupun fisiknya kurang, namun dia rajin bekerja. Tokoh Ki Kerti Peyok juga merupakan pemeran protagonis cerita ini.

Ki Kerti Peyok juga sosok yang mudah belajar dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Ki Sapa Wira dalam memandikan Kyai Dwipangga.

Namun agak teledor ketika melihat langit mendung dan tetap membawa Kyai Dwipangga untuk dimandikan di sungai.

C. Sultan Agung

Dalam cerita asal usul Kali Gajah Wong ini, Sultan Agung merupakan tokoh pendamping. Dia digambarkan sebagai pemimpin yang bijak dan baik hati.

Para abdi dalem dan rakyatnya sangat menghormati dan mencintai sang Sultan.

4. Alur

Alur dalam cerita

Alur cerita yang digunakan adalah alur maju. Kisah ini dimulai ketika KI Sapa Wira, seorang abdi dalem Keraton Mataram yang setia, mengalami cidera tangan.

Hal ini membuatnya tidak bisa menjalankan kewajibannya untuk memandikan Kyai Dwipangga.

Pada saat yang sama, Ki Kerti Peyok, adik ipar Ki Sapa Wira menawarkan bantuan untuk menggantikan memandikan Kyai Dwipangga. Ki Sapa Wira merasa senang karena telah dibantu.

Hari pertama memandikan Kyai Dwipangga dilakukan dengan baik oleh Ki Kerti Peyok. Namun pada hari selanjutnya terjadi peristiwa nahas yang menimpanya.

Ki Kerti tetap memandikan Kyai Dwipangga di kali, walaupun hari itu langit terlihat mendung.

Saat sampai di kali, air terlihat dangkal sehingga terpaksa Kyai Dwipangga dibawa agak ketengah.

Namun nahas, hujan turun dengan lebat dan banjir bandang datang. Mereka hanyut terbawa derasnya banjir sampai ke Laut Selatan.

5. Sudut Pandang

Sudut pandang cerita

Cerita rakyat asal usul Kali Gajah Wong ini memiliki sudut pandang orang ketiga. Dalam cerita ini menggunakan kata ganti orang ketiga yaitu “dia”. 

6. Amanat / Pesan Moral

Pelajaran yang dapat dipetik

Walaupun kisah ini cukup singkat, namun masih ada pesan moral yang bisa diambil. Beberapa amanat yang muncul dari cerita ini antara lain.

  • Berikan bantuan kepada orang yang sedang kesusahan. Contohnya ketika Ki Sapa Wira mengalami cidera tangan, kemudian Ki Kerti Peyok bersedia menggantikan tugas memandikan Kyai Dwipangga.
  • Jangan bertindak dengan gegabah. Kejadian ini terlihat ketika Ki Kerti Peyok memandikan Kyai Dwipangga di tengah sungai. Harusnya mereka tetap berada di tempat yang biasa digunakan oleh Ki Sapa Wira untuk memandikan gajah tersebut.

Analisi Unsur Ekstrinsik Cerita

Selain unsur intrinsik diatas, kita analisis juga unsur ekstrinsik cerita Asal Usul Kali Gajah Wong ini, sebagai berikut:

Unsur Ekstrinsik Cerita

1. Unsur Budaya

  • Untuk memandikan Kyai Dwipangga, Ki Sapa Wira harus membawanya ke tepi sungai agar bisa dimandikan dengan bersih.
  • Pada masa sekarang, memandikan gajah tidak perlu ke sungai.

2. Unsur Sosial

  • Ki Sapa Wira dan Ki Kerti Peyok adalah orang yang memiliki tanggung jawab dan melaksanakan tugas dengan baik.

3. Unsur Moral

  • Ketika kita bisa, berikan bantuan kepada orang orang yang membutuhkan.
  • Lebih bijak dalam bertindak dan tidak gegabah, agar tidak mengalami kerugian.

Dari cerita rakyat asal usul Kali Gajah Wong ini, Anda bisa memahami tentang kenapa sungai di Yogyakarta ini diberi nama Kali Gajah Wong.

Keraton Mataram merupakan kerajaan besar kala itu. Hingga kini kisah ini menjadi legenda di masyarakat setempat.

Nilai Kualitas Artikel

Leave a Comment