Cerita Rakyat Asal Usul Salatiga

Salatiga adalah kota kecil yang terletak di wilayah Jawa Tengah. Kota ini memiliki pemandangan yang indah dan hawa yang sejuk.

Dibalik keindahan kota Salatiga ini terdapat sebuah cerita rakyat asal usul Salatiga yang hingga saat ini masih dipercaya oleh masyarakat setempat.

Dari cerita yang ada, nama Salatiga berasal dari kata sela (batu) dan tiga (tiga). Dari kata tersebut, diceritakan bahwa Salatiga berasal dari tiga kesalahan yang terjadi di masa lampau.

Lebih tepatnya cerita ini bermula pada masa Wali Songo.

Cerita Rakyat Asal Usul Salatiga

Simak Ceritanya

1. Legenda Salatiga

Pada masa Wali Songo, disebutkan ada seorang adipati yang memiliki sifat jujur, namun sangat kikir. Adipati ini bernama Pandanarang yang bertugas untuk memimpin Kota Semarang.

Dia juga memiliki istri yang sangat haus akan kekayaan dan menyukai harta. Pada akhirnya Sunan Kalijaga mendengar sifat tidak baik yang dimiliki Adipati Pandanarang.

Karena Sunan Kalijaga adalah sosok yang bersifat bijaksana dan suka menolong, maka kabar tentang Adipati Pandanarang ini membuatnya ingin memberikan pelajaran.

Kala itu Sunan Kalijaga menyamar menjadi penjual rumput. Dia berkeliling hingga sampai di rumah sang adipati dan menawarkan rumput yang dibawanya.

Adipati menawar rumputnya dengan harga yang sangat murah. Namun Sunan Kalijaga ternyata menerima tawaran tersebut.

Setelah harga disepakati, adipati meletakkan uang 5 sen diantara rumput tersebut dan memintanya untuk meletakkannya di kendang.

Namun pada pagi hari, para abdi kerajaan menemukan dan menyerahkan uang tersebut kepada Adipati Pandanarang.

Adipati Pandanarang meminta abdi kerajaan untuk memanggil tukang rumput tersebut dan mengatakan hendak membeli rumput kembali.

Ketika si penjual rumput datang, kembali diletakkan uang 5 sen diantara tumpukan rumput. Dia juga tidak mengembalikan uang yang kemarin tertinggal.

Ketika tukang rumput telah pergi, Adipati Pandanarang menyuruh untuk mengecek rumput yang dibeli.

“Coba lihat di rumput itu, apakah uangnya ditinggalkan lagi?” pinta sang Adipati. Ternyata benar, uang itu masih tertinggal disana.

2. Kisah Sebongkah Emas di Istana

Adipati Pandanarang yang penasaran kenapa tukang rumput selalu meninggalkan uangnya, akhirnya bertanya. “Apa tujuanmu hai rakyat jelata.

Kamu selalu meninggalkan uang pada rumput yang aku beli?” tanya Adipati.

“Tuan, sebenarnya setiap kali hamba mencari rumput selalu saja menemukan uang dan sebongkah emas.

Namun hamba tidak membutuhkan semua itu, akhirnya hamba berikan kepada orang yang butuh.” Jawab tukang rumput.

“Tuan, saya beritahu hal penting. Sebenarnya dibawah istana ini terkubur emas yang berlimpah?” Lanjut tukang rumput.

Adipati Pandanarang penasaran, “Benarkah? Coba gali dimana emas itu terkubur!” perintah Adipati Pandanarang.

Melihat sang adipati yang sangat bersemangat, tukang rumput pun menjawab “Tapi Tuan, ada syaratnya.

Jika emas itu bisa digali, Tuan harus membagikannya ke semua warga yang membutuhkan.” Adipati Pandanarang langsung menyetujuinya.

Tukang rumput pun akhirnya menggali tanah. Betapa terkejutnya sang adipati ketika melihat banyak sekali emas dan perhiasan di pekarangan istana.

Sifat tamaknya muncul dan tidak rela emas itu dibagikan, dia pun menyimpan untuk diri sendiri.

Sunan Kalijaga yang mengetahui hal tersebut, kemudian datang ke Adipati Pandanaran. Dia mengaku bahwa selama ini menyamar menjadi tukang rumput.

Tujuannya adalah Adipati Pandanaran tidak tamak dan menyesali perbuatannya.

Adipati Pandanarang menyesal dan meminta maaf. Sebagai bentuk permintaan maafnya, adipati ingin berguru dengan Sunan Kalijaga.

“Aku terima kamu untuk berguru padaku, tapi penuhi syarat ini. Kamu tidak boleh membawa benda berharga satupun” Kata Sunan Kalijaga.

3. Berguru Dengan Sunan Kalijaga

Adipati Pandanarang menyetujui syarat yang diajukan oleh Sunan Kalijaga. Dia pun segera berpamitan kepada isterinya. Ternyata sang istri juga ingin ikut berguru bersama suaminya pada Sunan Kalijaga. 

“Dinda, kamu boleh ikut tapi syaratnya kamu tidak boleh membawa barang-barang. Serahkan semuanya kepada orang yang membutuhkan.” Kata Adipati Pandanarang.

Mendengar syarat tersebut, isterinya tidak rela hartanya dibagi-bagi. Maka dia pun berbohong kepada suaminya.

Sang istri berkata akan menyerahkan hartanya untuk fakir miskin dan segera menyusul Adipati Pandanarang dan Sunan Kalijaga.

Namun dia justru menyembunyikan perhiasannya di sebuah tongkat bambu. Dia pun menyusul suaminya dengan membawa tongkat tersebut.

Di tengah perjalanan, muncul sekelompok perampok yang menghadang rombongan Sunan Kalijaga. “Kalian tidak akan menemukan harta pada kami.

Tunggulah perempuan tua yang akan lewat. Dia memiliki tongkat bambu yang berisi emas permata.” Seru Sunan Kalijaga.

Benar saja, tidak lama lewatlah Nyai Pandanarang dengan tongkat bambunya.

Perampok langsung merampas tongkat yang dipegang. Karena perampok kelbih kuat, Nyai Pandanarang pasrah seluruh hartanya diambil perampok.

Penyesalan Nyai Pandanarang

Nyai Pandanarang kemudian melanjutkan perjalanan untuk menyusul suaminya dan Sunan Kalijaga. Setelah bertemu, dia kemudian bercerita tentang kejadian yang baru saja menimpanya.

“Maafkan aku, diperjalanan tadi ada perampok yang menghadang dan mengambil paksa tongkatku. Mereka tahu tongkat itu berisi emas permata yang aku sembunyikan.” Cerita Nyai Pandanarang.

Sunan Kalijaga menanggapi cerita Nyai Pandanarang. “Ini akibat dari kebohongan yang kamu lakukan kepada suamimu.

Kamu tidak mendengarkan dan tidak menyerahkan hartamu ke fakir miskin. Kejadian ini adalah karena kesalahanmu.” Ada tiga kesalahan yang dilakukan pada hari itu.

  • Adipati Pandanarang gagal menasehati istrinya yang tidak menuruti kata-katanya.
  • Nyai Pandanarang tidak mendengarkan nasihat suaminya dan justru berbohong kepada sang suami.
  • Para perampok yang melakukan perampasan dan tindak kejahatan.

“Ada tiga kesalahan dalam satu waktu yang terjadi di daerah ini. Aku akan memberikan nama daerah ini dengan nama Salah Tiga.

Kelak, daerah ini nantinya akan menjadi daerah yang subur dan ramai.” Ucap Sunan Kalijaga.

Seiring dengan berjalannya waktu, terjadi pergeseran ucapan dari Salah Tiga menjadi Salatiga.

Apa yang diprediksi oleh Sunan Kalijaga dulu ternyata benar, bahwa secara berangsur-angsur Salatiga menjadi sebuah kota yang ramai.

Selain cerita rakyat diatas, mungkin anda juga tertarik membaca:

Unsur Intrinsik Asal Usul Salatiga

Dari cerita rakyat asal-usul Salatiga diatas, terdapat beberapa unsur intrinsik yang bisa dikaji.

Unsur ini dapat dilihat dari tema, alur cerita, perwatakan,dan juga latar cerita. Berikut adalah penjelasan unsur intrinsik tersebut.

1. Tema

Analisis Tema

Legenda asal usul Salatiga ini mempunyai tema tentang petaka yang diakibatkan oleh sifat kikir. Terlebih lagi, yang memiliki sifat kikir tersebut adalah seorang pemimpin.

Seharusnya dia mengayomi rakyatnya dan bukan malah menumpuk harta.

2. Latar

Latar Cerita

Dari cerita asal usul Salatiga tersebut, sudah dapat diambil kesimpulan bahwa latar dalam cerita adalah Kota Salatiga.

Namun selain daerah yang disebutkan menjadi Salatiga, juga terdapat latar lain seperti istana atau kerajaan, Kota Semarang, dan juga pekarangan.

3. Tokoh

Penokohan

Tokoh yang muncul dalam cerita tersebut antara lain Adipati Pandanarang, Sunan Kalijaga, dan Nyai Pandanarang.

Ada juga tokoh lain sebagai pemanis dalam cerita tersebut, seperti abdi kerajaan dan para kawanan perampok. Adapun perwatakan untuk masing-masing tokoh adalah:

  • Adipati Pandanarang memiliki watak yang kikir dan gila harta. Dia dengan mudah tergiur jika berkaitan dengan harta. Contohnya ketika Sunan Kalijaga menyamar menjadi tukang rumput dan mengatakan ada emas terpendam di dalam istana.
  • Sunan Kalijaga adalah Wali Songo yang memiliki sifat lembut, sederhana, banyak akal, dan bijaksana. Dia memberi pelajaran kepada Adipati Pandanarang agar tidak kikir dengan cara yang halus.
  • Nyai Pandanarang adalah isteri dari Adipati Pandanarang yang juga memiliki sifat gila harta. Bahkan dia berbohong kepada suaminya karena tidak rela jika hartanya dibagikan kepada fakir miskin.

4. Alur

Alur Cerita

Cerita rakyat asal usul Salatiga ini menggunakan alur maju. Kisah ini di mulai dari kekikiran dan juga keserakahan yang dilakukan oleh Adipati Pandanarang beserta istrinya.

Mengetahui hal tersebut, Sunan Kalijaga ingin memberikan pelajaran agar tidak tamak dan kikir lagi.

Disusunlah rencana untuk membuat Adipati Pandanarang dan isterinya menyadari kesalahan yang dilakukan.

Akhirnya Adipati Pandanarang menyadari kesalahannya dan ingin berguru kepada Sunan Kalijaga, begitu juga dengan istrinya.

Sebelum mulai berguru, mereka harus menyerahkan semua hartanya kepada fakir miskin, namun Nyai Pandanarang berbohong.

Sunan Kalijaga mengetahui jika hartanya disembuyikan pada tongkat bambu. Hingga akhirnya semua harta tersebut dirampas oleh perampok.

5. Sudut Pandang

Sudut pandang dalam cerita

Sudut pandang yang digunakan pada cerita rakyat asal usul Salatiga adalah sudut pandang orang ketiga. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan kata ganti tokoh dengan kata dia dan mereka.

6. Amanat/ Pesan Moral

Pesan Moral Cerita
  • Janganlah menjadi orang yang kikir atau gila harta. Jika Anda memiliki harta yang lebih, berikan kepada orang yang membutuhkan.
  • Selalu jujur dalam berkata dan berbuat, terlebih jika Anda adalah pemimpin. Jangan berbohong hanya untuk keuntungan pribadi.

Unsur Ekstrinsik Cerita Asal Usul Salatiga

Selain pembahasan unsur instrinsik, ada pula pembahasan unsur berikutnya yakni ekstrinsik.

Berikut merupakan unsur ekstrinsik cerita rakyat asal usul salatiga

Unsur Ekstrinsik Cerita

1. Nilai Budaya

  • Dalam cerita diatas disebutkan bahwa Nyai Pandanarang menyembunyikan harta emas permata di tongkat bambu untuk dibawa bepergian.
  • Untuk saat ini sudah jarang orang membawa emas permata selama perjalanan. Harta akan disimpan di tempat khusus.

2. Nilai Moral

  • Adipati Pandanarang dan isterinya merasa menyesal atas kekikiran dan ketamakan yang dilakukan selama ini.

Cerita rakyat asal usul Salatiga ini sarat akan makna kehidupan.

Hubungan sosial masyarakat, antara pimpinan dan rakyatnya, hingga sifat pribadi sang pimpinan. Ketamakan akan harta benda akan membawa petaka pada akhirnya.

Nilai Kualitas Artikel

Leave a Comment