Cerita Rakyat Malin Kundang 5/5 (3)

Cerita rakyat Malin Kundang adalah salah satu kisah dari sekian banyak legenda yang berasal dari anak durhaka sampai kutukan.

Hal ini yang membuat ceritanya terkenal berdasarkan nilai moralnya, karena bisa menjadi salah satu metode parenting.

Disamping itu, Anda juga harus mengetahui unsur intrinsik dan ekstrinsiknya karena bisa menjadi dasar pengetahuan.

Cerita Malin Kundang ini memiliki banyak nilai moral yang bisa diceritakan, dan Anda harus membaca kisahnya berikut ini. 

Cerita rakyat Malin Kundang

Simak Ceritanya

1. Hiduplah Seorang Anak dan Ibunya di Minang

Pada suatu hari dikisahkan seorang anak laki-laki yang hidup bersama ibunya di desa daerah Minang mereka berdua tinggal bersama di gubuk yang kumuh, jelek, dan kusam.

Rumahnya hampir roboh karena mereka sangat miskin. Ibunya bekerja serabutan dan ayahnya sudah meninggal, sehingga mereka hidup seadanya.

Mendapatkan uang atau upah hanya habis untuk makan satu hari, kemudian besoknya ibu harus bekerja lagi banting tulang dengan semangat demi anak laki-lakinya.

2. Anak Laki-Lakinya Bernama Malin Kundang

Anak laki-laki miskin itu bernama Malin Kundang, awalnya ia merupakan anak yang baik dan berbakti kepada ibunya, ia selalu membantu ibunya jika kesusahan, dan selalu membantu ibunya bekerja serabutan.

Hal ini membuat ibunya senang dan bangga memiliki Malin. Ibunya yang miskin ini selalu merasa sedih karena tidak bisa memberikan apa-apa kepada anaknya.

Ibunya selalu meratapi nasibnya yang malang dan berdoa, semoga nasibnya bisa membaik demi anaknya untuk sukses merubah kehidupan keluarga.

3. Malin Kundang Hidup dengan Kasih Sayang Ibunya

Meski kehidupannya sangat miskin, Malin Kundang hidup dengan kasih sayang ibunya yang tulus.

Semua hal yang ibunya lakukan pasti dilakukan untuk Malin sehingga tidak ada satupun harta atau uang disembunyikan oleh ibundanya.

Hal ini membuat Malin bertumbuh menjadi anak yang baik, dan berbakti sebelum ia remaja.

Malin merupakan anak yang selalu didoakan oleh ibunya supaya sukses, dan bisa merubah derajat keluarganya, namun ibunya tidak memaksakan itu.

Hal yang paling penting adalah bukan apa-apa melainkan kesehatan dan keselamatan Malin.

Ibunya sangat sayang kepada Malin, sampai semua orang paham betul jika Malin akan dicari ibunya ketika main, dan Malin tidak keberatan untuk hal itu.

4. Malin Tumbuh Dewasa

Malin bertumbuh dan berkembang menjadi anak yang pintar, cerdas, dan kuat. Hal ini tentunya berkat didikan dan kasih sayang ibunya selama ini.

Malin tumbuh dewasa dan menjadi pemuda paling pekerja keras di desanya. Semua orang mengenali Malin karena kegigihannya dalam bekerja, sehingga Malin menjadi orang yang terkenal dan dapat dipercaya.

Hal ini membuat semua orang ingin mengajaknya bekerja dan menjadi bagiannya, sehingga membuat Malin menyadari satu hal.

Malin yang bertumbuh dewasa ini berpikir untuk pergi merantau ke kota dan meninggalkan desanya.

Hal ini dilakukan untuk membuat pribadinya berkembang menjadi sosok yang sukses. Malin pun merencanakan semuanya untuk pindah ke kota, namun belum memberitahu ibunya.

5. Malin Membuat Strategi untuk Pergi ke Kota

Malin masih menjadi seorang bocah kampung yang tidak memiliki bekal cukup untuk pergi ke kota. Hal ini membuat Malin berpikir bagaimana caranya untuk ia ke kota dan merubah nasibnya.

Ia akhirnya berencana untuk ikut kapal pemberangkatan pertama pada dini hari. Kapal tersebut biasanya mengantarkan ikan ke kota dan bisa memberikan tumpangan kepada siapapun secara gratis.

Kesempatan ini tentunya tidak ingin dibuang oleh Malin sehingga ia segera memberitahu ibunya, bahwa ia akan segera mengembara pergi ke kota.

6. Ibunya Sedih Mendengar Mimpi Malin

Ibunya yang selama ini merawat Malin awalnya tidak setuju dan sangat sedih jika Malin pergi.

Hal ini karena ibunya tidak mau ditinggalkan oleh anak kesayangan satu-satunya, dan ia hanya ingin bersama Malin di sampingnya.

Namun, ia juga menyadari bahwa mimpi Malin ini harus didukung untuk membuat anaknya bahagia.

Hatinya yang berat akhirnya mengizinkan Malin pergi meski dengan air mata dan kekhawatiran pada hatinya.

Ibunya memberi bekal uang tabungan selama ia pekerja kepada Malin, sambil menangis dan berkata “hati-hati di jalan anakku sayang.”

Malin kemudian membereskan bajunya, serta bergegas pergi menuju kapal yang berangkat pada dini hari.

7. Malin Tiba di Kapal

Kapal yang berangkat pada dini hari itu pun berhasil ia tumpangi untuk pergi ke kota, ia berjanji tidak akan pernah kembali ke kampung sebelum berhasil di kota.

Hal ini menjadi motivasi yang besar untuk Malin supaya bekerja keras di tempat perantauannya.

8. Malin Mulai Merantau

Pada awalnya Malin tidak tahu apa-apa tentang kota, yang diketahui hanyalah caranya berdagang.

Namun, strategi berdagang Malin berjalan sukses, ia berhasil menguasai pasar kota dan menjadi saudagar kaya dalam beberapa tahun, dan malin ingin pulang ke kampung.

9. Maling Bertemu Ibunya

Malin yang sudah sukses ini pergi ke kampung dengan harta berlimpah juga istri cantik.

Hal ini tentunya menjadi sorotan besar untuk masyarakat di lingkungannya karena dulu Malin hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras saja.

Namun, sekarang Malin merupakan pengusaha sukses yang ingin pamer harta dan melupakan ibunya. Ibunya tidak ia jumpai karena merasa malu dengan orang tua miskin yang tidak selevel dengannya.

Malin membenci ibunya.  “Anakku!” teriakan itu berasal dari belakang. Ia adalah ibu Maling yang merindukannya.

Malin tidak peduli kepada ibunya dan bergegas pergi, namun ibunya mengejarnya dan menggenggam bahunya. saat itu pula malin merasa risih dan berhenti melangkah. 

Kemudian malin marah dan kesal lalu membentak ibunya dan berkata dia bukan siapa-siapanya, malin kemudian mendorong ibunya sampai jatuh, dan menendangnya sampai ibunya terluka.

Ibunya sakit hati dan marah kepada Malin, kecewa sampai langit ikut menangis.

10. Ibunya Mengutuk Malin

Akhirnya, ibunya tidak kuat menahan amarah dan mengutuk Malin di pinggir pantai. Ibunya Malin mengutuknya menjadi batu, kemudian badan Malin semakin keras.

Berubahlah ia menjadi sebuah batu di pinggir pantai, meski Malin menyesal telah menyakiti hati ibunya. Namun, semua sudah terlambat karena ibunya sangat sakit hati.

Batu tersebut sekarang berada di daerah Sumatera dan dikenal sebagai Legenda Malin Kundang yang terkenal, dan banyak diceritakan turun temurun.

Selain cerita diatas, mungkin kamu juga tertarik membaca cerita berikut:

Unsur Intrinsik Malin Kundang

Didalam cerita di atas, kita dapat menganalisis unsur-unsur yang terdapat dalam cerita.

Dibawah ini di uraikan Unsur Intrinsik Cerita Malin kundang:

1. Tema

Tema Cerita

Tema dari cerita rakyat Malin Kundang di atas adalah tentang anak yang durhaka kepada ibunya.

Hal ini ditandai dengan kisahnya yang dikutuk karena tidak menggap ibunya, menendang dan mendorong ibunya sampai terluka, serta sakit hatinya.

2. Latar

Latar dalam cerita

Adapun Latar tempat dari cerita Malin Kundang adalah rumah, lingkungan rumah, suasana kapal, kota, dan pinggir pantai lokasi Malin dikutuk.

Sedangkan latar waktunya adalah zaman dahulu karena, kapal menjadi ciri transportasi langka namun penting pada zamannya

3. Tokoh

Penokohan

Tokoh yang ada pada cerita rakyat Malin Kundang di atas adalah ibu kandungnya. Ibu kandung Malin adalah sosok yang penyayang namun tersakiti, dan tetap sabar.

Sementara, Malin adalah anak yang jahat karena melupakan ibunya dan tidak berbakti, namun anak rajin.

4. Alur

Alur Cerita Malin Kundang

Alur yang terdapat pada kisah diatas adalah maju, hal ini ditandai oleh ceritanya yang fokus menceritakan kelanjutan kehidupan tokohnya. Tidak ada gambaran masa lalu, dan yang ada hanyalah masa depan.

Alur ini juga terbagi menjadi tiga ada perkenalan, konflik, dan penyelesaian konfliknya.

Perkenalan dimulai dari mengenalkan tokohnya di awal, konfliknya dimulai ketika Malin meninggalkan ibunya, dan penyelesaiannya ketika ibunya mengutuk Malin Kundang.

5. Sudut Pandang

Sudut pandang cerita

Sudut pandang yang diambil dari cerita rakyat Malin Kundang adalah ketiga, karena cerita di atas menceritakan legenda orang lain.

Tidak menceritakan kisah pribadi, atau pengalaman pribadi yang ditandai dengan kata aku.

Sudut pandang di atas menjadi ketiga karena adanya penyebutan nama orang sebagai yang diceritakannya.

Ada juga sebutan ia, dia, dan -nya pada cerita di atas, tidak ada sebutan kamu, aku dan lain sebagainya yang menandakan sudut pandang pertama serta kedua.

6. Amanat / Pesan Moral

Pesan moral cerita

Amanat dan pesan moral yang bisa diambil adalah jangan pernah melupakan kasih sayang ibu karena besar dosanya. Hal  ini juga akan membuat kehidupannya sengsara karena telah menyakiti hati ibunya.

7. Majas

Analisis majas

Dalam cerita ini, majas yang digunakan adalah personifikasi ketika menggambarkan kesedihan ibunya dan membuat langit ikut menangis.

Selain itu, majas yang lainnya adalah hiperbola dengan melebih-lebihkan cerita pada kasih sayang ibunya kepada Malin.

Unsur Ekstrinsik Cerita Malin Kundang

Unsur ekstrinsik yang terdapat pada cerita rakyat Malin Kundang adalah nilai kebaikannya. Malin awalnya anak baik namun lupa kepada ibunya karena sudah menjadi saudagar kaya.

Hal ini bisa menjadi nilai moral yang diangkat untuk membuat anak-anak menjadi baik dan penurut.

Cerita rakyat Malin Kundang merupakan kisah yang harus dilestarikan karena termasuk kepada keragaman budaya Indonesia.

Cerita ini sebenarnya berasal dari daerah Sumatra, namun karena terkenal menjadi dikenal di berbagai wilayah Indonesia.

Nilai Kualitas Artikel

Leave a Comment