Cerita Rakyat Roro Mendut

Cerita rakyat roro mendut ini menceritakan tentang kisah seorang wanita yang memiliki paras cantik jelita. Kecantikannya tersebut membuat banyak pria yang mendekatinya.

Roro Mendut adalah sebuah kisah yang terjadi di tanah Jawa. Tepatnya berada di Jawa Tengah.

Walaupun sang wanita ini banyak didekati pria, namun tidak ada satu orangpun yang diterimanya.

Lalu kenapa wanita tersebut tidak menerimanya. Banyak cerita yang terjadi dan pasti membuat Anda penasaran.

Cerita Rakyat Roro Mendut

Simak Ceritanya

1. Siapakah Roro Mendut

Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil yang bernama Teluk Cikal hiduplah seorang gadis yang sangat cantik. Nama gadis itu adalah Roro mendut.

Desa Teluk Cikal merupakan desa yang berada di wilayah Kesultanan Mataram. Pada masa itu masih dipimpin oleh Sultan Agung.

Dia merupakan anak seorang nelayan disana. Selain cantik, ia juga seorang gadis yang memiliki pendirian teguh. Kala itu dia memiliki kekasih yang bernama Pranacitra.

Kekasihnya ini merupakan pemuda desa seberang yang tampan. Orang tua Pranacitra, Nyai Singabarong sangat terkenal kaya raya.

Namun walaupun orang-orang sudah tahu jika Roro Jonggrang memiliki kekasih, masih banyak pria yang mendekatinya. Dengan lantang Roro Jonggrang menolak semua lamaran yang datang.

Selang waktu berjalan, kecantikan Roro Jonggrang terdengar oleh Adipati Pragolo II. Seorang penguasa Kadipaten Pati. Muncul keinginannya untuk menjadikan dia sebagai salah satu selir.

Sang Adipati segera datang dan melamar Roro Mendut, namun ditolak. Penolakan ini tidak membuat Adipati Pragolo II menyerah.

Dia terus datang ke desa dan membujuk Roro Mendut. Tapi lagi-lagi penolakan yang diterima. 

2. Adipati Pragolo II Menggunakan Segala Cara

Pranacitra yang mengetahui sikap Adipati menjadi sangat kesal. Dia menantang Adipati untuk bertarung melawannya. Adipati kesal dan merencanakan menculik Roro Mendut.

Pengawal Adipati datang ke rumah Roro Mendut dan mengajaknya ke keraton. Dengan lantang Roro Mendut menolaknya, “Dasar pengecut, beraninya hanya menyuruh pengawalnya.

Sampai kapanpun aku tidak sudi menjadi selir!” Para pengawal dengan paksa menarik tangan Roro Mendut dan membawanya ke keraton

3. Keributan di Keraton

Roro Mendut dipingit di Puri Kadipaten Pati yang dijaga oleh dayang bernama Genduk Duku dan Ni Semangka.

Selama masa pingitan dialami Roro Mendut, ternyata sedang terjadi konflik antara Sultan Agung dan Adipati Pragolo II.

Adipati Pragolo II dituduh tidak membayar upeti ke Kesultanan Mataram dan dianggap sebagai pemberontak. Kejadian ini memicu penyerangan dari Sultan Agung ke Kadipaten Pati.

Namun ternyata Sultan Agung tidak mampu menyerang karena Adipati mengenakan kere waja.

Pakaian kere waja adalah sejenis baju zirah yang memiliki kesaktian dalam melawan serangan. Akhirnya seorang abdi bernama Ki Nayadarma turun tangan.

“Adipati tidak mudah untuk diserang, Gusti Prabu. Izinkan hamba yang maju untuk melawannya” Pinta Ki Nayadarma kepada Sultan Agung.

Sang sultan setuju dan meminta Ki Nayadarma untuk mengalahkan Adipati. Ki Nayadarma membawa tombak pusaka yang bernama Baru Klinting dan berusaha menyerang Adipati.

Namun ternyata serangan ini juga bisa ditangkal oleh Adipati,

Pada suatu kesempatan, Ki Nayadarma melihat Adipati tengah lengah. Dengan sigap Ki Nayadarma menusukkan tombak Baru Klinting ke bagian tubuh yang tidak terlindung baju zirah.

Akhirnya Adipati Pragolo II tewas seketika.

4. Roro Mendut Diminta Menjadi Selir

Setelah peperangan usai, panglima Mataram yang bernama Tumenggung Wiraguna memimpin pasukan untuk merampas semua harta Kadipaten Pati.

Saat itu juga dia bertemu dengan Roro Mendut yang sedang dipingit. Tumenggung Wiraguna jatuh cinta saat melihat Roro Mendut dan memintanya menjadi selir.

Tentu saja tawaran itu ditolak oleh Roro Mendut dan mengatakan telah memiliki kekasih. Hal ini membuat Tumenggung Wiraguna murka.

“Jika kamu keras kepala dan tidak mau menjadi selir, kamu harus melunasi tunggakan upeti Adipati!” Ancam sang Tumenggung. “Baiklah aku akan melunasinya, aku tidak takut dengan ancamanmu.

Setelah itu pergi dari hadapanku!” jawab Roro Mendut.

Selama belum melunasi upeti tersebut, Roro Mendut harus tinggal di keraton yang dijaga oleh pengawal dan dayang Tumenggung.

Saat itulah dia bertemu dengan Putri Arumardi dan Nyai Ajeng, para selir Tumenggung Wiraguna.

5. Menjadi Penjual Rokok

Demi bisa membayar upeti yang dijanjikannya, Roro Mendut berjualan rokok. Sebenarnya dia bisa saja meminta kepada Pranacitra, namun dia tidak mau merepotkan orang lain.

Rokok yang dijual Roro Mendut laris, kebanyakan pembeli adalah laki-laki yang terpesona dengan kecantikannya.

Pranacitra akhirnya mengetahui masalah yang dialami Roro Mendut. Dia datang membawa uang untuk membayar upeti, namun ditolak.

Pranacitra berfikir bagaimana caranya agar kekasihnya itu bisa keluar dari Mataram. Akhirnya Roro Mendut berbicara dengan selir Tumenggung Wiraguna dan mengutarakan niatnya untuk kabur.

Kedua selir tersebut setuju dan Menyusun rencana agar Roro Mendut lepas dari pengawal Tumenggung.

6. Kabur Dari Mataram

Nyai Ajeng dan Putri Arumardi telah menemukan cara agar Roro Mendut bisa kabur. “Besok pagi-pagi, kita akan membuat keributan agar pengawal sibuk untuk melerai kami.

Saat itu kamu bisa keluar dan mintalah kekasihmu berjaga hingga kamu tiba.” Kata Putri Arumardi.

Roro Mendut menangis atas kebaikan para selir tersebut. Diam-diam Roro mendut menceritakan rencananya pada Pranacitra saat berada di pasar.

Ketika malam tiba, Nyai Ajeng dan Putri Arumardi pura-pura memperebutkan Panglima Tumenggung. Kejadian tersebut menimbulkan keributan hingga para pengawal datang melerai.

Kesempatan itu digunakan Roro Mendut untuk kabur. Mereka berdua berlari menemui ayah Roro di desa Teluk Cikal. Pranacitra akan menikahi Roro Mendut setiba di desa agar tidak diganggu lagi.

Naas, ternyata para pengawal mengikuti mereka dan menangkapnya. Pranacitra yang mencoba melawan tidak berdaya. Roro Mendut kembali dibawa ke Mataram.

Panglima Tumenggung memerintahkan pengawalnya untuk membunuh Pranacitra.

7. Tumenggung Memaksa Roro Mendut Menjadi Selir

Roro Mendut tetap menolak permintaan Tumenggung untuk dijadikan selir. Dia masih percaya bahwa Pranicitra akan datang menolongnya. “Maafkan aku, kekasihmu itu telah aku bunuh.

Dia telah tiada, ini adalah balasan untukmu!” Kata Tumenggung licik.

Roro Mendut tidak percaya hingga Tumenggung membawanya ke makam sang kekasih.

Sampai di depan makam, Roro Mendut menangis histeris hingga jatuh. Tumenggung masih memaksa Roro Mendut agar menyerah dan mau menjadi selir. Tetap saja Roro Mendut tidak memperdulikannya.

Tumenggung menyeret Roro Mendut untuk kembali ke Mataram. Saat itu dia melihat keris terselip di celana, seketika dia mengambilnya dan berlari ke arah makam Pranacitra.

8. Roro Mendut Bunuh Diri

Tumenggung berteriak agar Roro Mendut tidak bunuh diri. “Kamu tidak perlu bunuh diri. Lepaskan keris itu. Aku tidak akan memaksamu lagi!” Kata Tumenggung.

Namun Roro Mendut tidak mendengarnya dan menusuk perutnya menggunakan keris tersebut.

“Kanda, tunggu aku, aku akan menyusulmu. Aku hanya ingin bersamamu, aku tidak mau bersama yang lain,” Ucap Roro Mendut.

Kemudian dia jatuh dan meninggal di makam Pranacitra. Tumenggung Wiraguna merasa menyesal telah memaksanya menjadi selir.

Akhirnya Roro Mendut dikuburkan bersama dengan Pranacitra. “Maafkan aku, semoga kalian tenang disana. Kisah cintamu akan abadi selamanya.” Kata Tumenggung didepan makam.

Selain cerita rakyat roro mendut di atas, mungkin kamu juga tertarik membaca cerita berikut:

Unsur Intrinsik Cerita Rakyat Roro Mendut

Setelah membaca keseruan cerita diatas, berikut kita membahas lebih dalam mengenai unsur intrinsik yang terkandung dalam cerita.

Adapun unsur intrinsik cerita rakyat roro mendut adalah sebagai berikut:

1. Tema

Analisis Tema

Tema Cerita Rakyat Roro Mendut ini tentang sebuah keteguhan hati dan kesetiaan cinta. Walaupun banyak pria yang datang untuk melamar, namun Roro Mendut tepat setia pada kekasihnya.

2. Latar

Latar Cerita

Pertama berlokasi di Teluk Cikal. Latar selanjutnya adalah Kadipaten Pati. Sedangkan latar terakhir adalah makam Pranacitra yang selanjutnya menjadi makam Roro Mendut.

Untuk waktunya adalah pagi hari dan siang hari.

3. Tokoh

Penokohan

A. Roro Mendut

  • Cantik
  • Setia kepada pasangannya
  • Pemberani
  • Memiliki pendirian yang teguh

B. Pranacitra

  • Tampan
  • Setia dan kaya raya
  • Berani melawan untuk menolong sang kekasih

C. Sultan Agung

  • Pemimpin yang bijak dan pemberani

D. Adipati Pragolo II dan Tumenggung Wiraguna

  • Pemimpin yang jahat
  • Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

E. Tokoh pendukung

Nyai Ajeng, Putri Arumardi, Genduk Duku, Ni Semangka, dan Ki Nayadarma.

4. Alur

Alur Cerita

Cerita rakyat Roro Mendut ini menggunakan alur maju. Bermula dari Adipati Pragolo II yang jatuh cinta pada Roro Mendut.

Pada saat yang sama terjadi pertempuran antara Adipati dan Sultan Agung dan akhirnya Kadipaten Pati mengalami kekalahan.

Tumenggung Mataram yang bernama Panglima Tumenggung Wiraguna juga tertarik pada Roro Mendut.

Namun terjadi penolakan. Kejadian ini membuat kekasih Roro Mendut terbunuh dan akhirnya Roro Mendut memutuskan untuk bunuh diri.

5. Sudut Pandang

Sudut Pandang Cerita

Sudut pandang pada Cerita Rakyat Roro Mendut ini adalah sudut pandang orang ketiga. Cerita ini menggunakan kata ganti “dia” dan “mereka”.

6. Amanat / Pesan Moral

Pesan yang didapat
  • Jadilah seorang wanita yang memiliki pendirian teguh.
  • Pentingnya menjaga kesetiaan dengan pasangan.
  • Jangan suka memaksakan kehendak pada orang lain.
  • Jangan menghancurkan kebahagiaan orang.

7. Majas

Analisis Majas

Dalam cerita ini terdapat majas personifikasi (perumpamaan)

Unsur Ekstrinsik Cerita Rakyat Roro Mendut

Selain unsur intrinsik diatas, kita analisis juga unsur ekstrinsik cerita rakyat roro mendut ini, sebagai berikut:

Unsur Ekstrinsik Cerita

1. Nilai budaya

Pada masyarakat Jawa dulu, wanita dianggap lemah dan bisa dijadikan istri oleh siapapun atau dijadikan selir.

2. Nilai sosial

Adanya kewajiban membayar upeti kepada penguasa.

3. Nilai ekonomi

Telah dikenalnya mata uang dan jual beli di pasar.

Membaca cerita rakyat roro mendut ini menjadi pelajaran tentang arti sebuah kesetiaan dan pentingnya memiliki pendirian yang teguh.

Bahkan ketika seorang pemimpin berlaku sesuka hati, Anda harus bisa tetap teguh pada pendirian.

Nilai Kualitas Artikel

Leave a Comment