Laporan Praktikum Jamur

Download Laporan Praktikum Jamur dan landasan teori mengenai jamur lengkap dengan pembahasan dalam format PDF. Laporan Praktikum ini merupakan kelanjutan dari Laporan Praktikum yang pernah admin bahas minggu lalu, laporan ini admin susun dari berbagai sumber agar informasi yang di berikan lebih banyak.

BAB I PENDAHULUAN

Tujuan :

  1. Mengetahui struktur tubuh jamur
  2. Mengetahui cara mengidentifikasi jamur mikroskopis
  3. Mengetahui cara mengidentifikasi amur makroskopis

Latar Belakang

Indonesia yang berada pada daerah tropis, memiliki keadaan iklim yang stabil pada tiap tahunnya, sehingga menyebabkan terbentuknya habitat dan relung yang lebih banyak jika dibandingkan dengan bioma lainnya. Indonesia mempunyai pulau yang bervariasi, mulai dari yang sempit sampai dengan yang luas, dari dataran rendah sampai berbukit hingga pegunungan tinggi yang mampu menunjang kehidupan flora, fauna, dan mikroba yang beraneka ragam, termasuk pula jamur. Sebagian besar jamur hidup sebagai parasit, bersifat saprofit, memiliki simbiosis mutualisme, dan membentuk lichenes.

Jamur merupakan salah satu keunikan yang memperkaya keanekaragaman jenis makhluk hidup. Secara alamiah jamur banyak dijumpai pada tempat dengan kondisi ligkungan yang lembap. Jamur memerlukan kondisi lingkungan yang kurang cahaya matahari karena jamur merupakan jenis tumbuhan yang bersifat fototropisme negatif yang berarti tidak menyukai cahaya. Jamur merupakan organisme eukariotik, berspora, tidak berklorofil. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa. Hifa dapat membentuk anyaman bercabang- cabang yang disebut miselium. Jamur terbagi atas jamur makroskopis dan jamur mikroskopis. Pada praktikum kali ini kita akan mengidentifikasi jamur secara mikroskopis dan makroskopis.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Jamur

Jamur merupakan tanaman yang tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan sendiri. Jamur hidup dengan cara mengambil zat-zat makanan seperti selulosa, glukosa, lignin, protein dan senyawa pati dari organisme lain. Di alam, zat-zat nutrisi tersebut biasanya telah tersedia dari proses pelapukan oleh aktivitas mikroorganisme (Parjimo, 2007 dan Nunung, 2001).

Menurut Pasaribu (2002), jamur dapat tumbuh diantara jasad hidup (biotik) atau mati (abiotik), dengan sifat hidup heterotrof (organisme yang hidupnya tergantung dari organisme lain) dan saprofit (organisme yang hidup pada zat organik yang tidak diperlukan lagi atau sampah).

Menurut Agrios (1996), jamur adalah organisme kecil, umunya mikroskopis, eukariotik, berupa filament (bening), bercabang, menghasilkan spora, tidak mempunyai klorofil, dan mempunyai dinding sel yang mengandung kitin, selulosa atau keduannya. Sebagian besar dari 100.000 spesies jamur yang telah diketahui sangat saprofit, hidup pada bahan organic mati, yaitu membantu pelapukan. Beberapa diantaranya lebih kurang 50 spesies, menyebabkan penyakit pada manusia, dan lebih kurang sebanyak itu menyebabkan penyakit pada hewan, sebagian besar dari pada itu berupa penyakit yang tidak berarti pada kulit atau anggota tubuh. Akan tetapi, lebih dari 8.000 spesies jamur dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Semua tumbuhan diserang oleh beberapa jenis jamur, dan setiap jenis parasit dapat menyerang satu atau banyak jenis tumbuhan.

Menurut Zedan (1992), jumlah spesies jamur yang sudah diketahui hingga kini adalah kurang lebih 69.000 dari perkiraan 1.500.000 spesies yang ada didunia. Dan menurut Rifai (1995) di Indonesia terdapat kurang lebih 200.000 spesies. Indonesia memiliki kekayaan akan diversitas tumbuhan dan hewan juga memiliki diversitas fungi yang sangat tinggi mengingat lingkungannya yang lembab dan suhu tropis yang mendukung pertumbuhan fungi (Gandjar, 2006).

Menurut Achmad (2012), jamur merupakan salah satu organisme tingkat rendah yang tidak berklorofil yang memiliki tubuh buah berukuran besar sehingga dapat diamati dengan mata secara langsung. Bentuk tubuh buah yang tampak umumnya seperti payung. Tubuhnya terdiri atas bagian yang tegak yang berfungsi sebagai penyangga dan tudung. Tudung berbentuk mendatar atau membulat. Bagian tubuh yang lainnya adalah jaring-jaring dibawah permukaan media tumbuh berupa miselia yang tersusun dari berkas hifa. Morfologi jamur bervariasi didasarkan pada bentuk tudungnya.

Tubuh jamur dapat berupa sel-sel yang lepas satu sama lain atau berupa beberapa sel yang bergandengan dan dapat berupa benang. Helai benang itu disebut hifa, hifa jamur ada yang bersekat-sekat dan ada pula yang tidak memiliki sekat. Pada umumnya hifa ini menghasilkan alat-alat perkembangbiakan yang disebut spora (Heddy, 1987). Menurut morfologinya, jamur dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu akar (rhizoid), batang (stalk), dan tudung (pileus). Namun, bagian-bagian tersebut bukanlah bagian yang sebenarnya melainkan hanya bagian semu.

B. Faktor Penunjang Pertumbuhan Jamur

Ada beberapa faktor penunjang atau syarat pertumbuhan jamur yaitu :

a. Air dan kelembapan

Semua jenis jamur memerlukan kelembapan relatif cukup tinggi untuk menunjang pertumbuhannya, yaitu 95-99%. Di alam, biasanya jamur muncul pada saat setelah musim hujan atau setelah hujan selesai. Pada kondisi seperti itu, kandungan air di udara cukup tinggi. Demikian pula kandungan air sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan miselia jamur. Apabila kandungan air terlalu sedikit maka perumbuhan jamur akan terganggu. Sebaiknya bila terlalu banyak maka akan terjadi pembusukan substrat yang ditandai dengan berkembangnya kontaminan dan matinya miselia.

b. Kebutuhan nutrisi

Jamur dalam hidupnya juga memerlukan nutrisi untuk tumbuh yang diserap dari subtart. Semua senyawa karbon dapat digunakan oleh jamur, antara lain monosakarida, polysakarida, asam organik alkohol, selulosa, dan lignin. Sember karbon yang paling mudah diserap adalah glukosa. Senyawa nitrogen dierlukan untuk proses sintesis protein, purin, pirimidin dan khitin. Sumber nitrogen yang diperlukan dalam bentuk nitrat, amonium, dan nitrogen organik. Kebutuhan mineral diantaranya sulfur dalam bentuk garam sulfat diperlukan untuk sintesis metionin, vitamin, dan biotin. Unsur logam, seperti besi, tembaga, dan mangan diperlukan dalam jumlah sangat kecil.

c. Suhu

Suhu merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap penyebaran jamur di bumi. Berdasarkan kisaran suhu, jamur dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu jamur psikrofil (jamur yang hidup pada rentang suhu 0-17C), jamur mesofil (jamur yang hidup pada kisaran suhu 15-40C), dan jamur termofil (jamur yang dapat hidup pada kisaran suhu 35-50C).

d. Keasaman

Pengaruh kisaran pH pada pertumbuhan jamur tergantung pada beberapa faktor, antara lain ketersediaan anion logam, permeabilitas dinding sel yang berhubungan dengan pertukaran anion, serta produksi gas karbondioksida dan amoniak. Setiap jenis jemur memerlukan pH berbeda untuk setiap tahapan kehidupannya. Jika pH substrat (tempat tumbuh) lebih asam atau basa maka enzim pencernaam yang dihasilkan oleh sel jamur tidak aktif dapat mengurangi materi substrat.

e. Cahaya

Kabanyakan jamur kecuali Agaricus memerlukan cahaya untuk awal pertumbuhan badan buah. Pada jamur Flammulinavelutipes, pembentukan badan buah memerlukan cahaya efektif dengan panjang gelombang 435-470 nm, namun kebanyakan jamur masih belum diketahui.

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum jamur ini kami lakukan pada :

Hari :

Tempat :

B. Alat dan Bahan

Berikut ini merupakan alat dan bahan yang kami gunakan dalam praktikum jamur ini, sebagai berikut:

Alat

  • kaca objek
  • kaca penutup
  • pipet tetes
  • tusuk gigi
  • gelas beker
  • mikroskop
  • lup

Bahan

  • aquades
  • tempe
  • oncom
  • roti berjamur
  • jamur tiram
  • jamur kuping

C. Prosedur Kerja atau Cara Kerja

Berikut ini berbagai langkah dalam praktikum jamur :

a. Mengidentifikasi jamur mikroskopis

  1. Siapkan alat dan bahan untuk pengamatan
  2. Goreskan tusuk gigi pada jamur tempe yang akan diteliti, lalu goreskan jamur tersebut pada kaca objek
  3. Teteskan aquades pada jamur di kaca objek
  4. Tutup kaca objek dengan kaca penutup, perhatikan agar tidak ada gelembung udara
  5. Amati objek dengan menggunakan mikroskop, mulai dari perbesaran rendah hingga tinggi
  6. Ulangi langkah 2-5 untuk jamur oncom dan roti

b. Mengidentifikasi jamur makroskopis

  1. Siapkan alat dan bahan untuk pengamatan
  2. Identifikasi jamur tiram dan jamur kuping yang tersedia

BAB IV PEMBAHASAN

Adapun pembahasan dalam laporan praktikum jamur ini adalah sebagai berikut :

Praktikum yang kami lakukan kali ini adalah mengenai jamur, baik jamur mikroskopis maupun jamur makroskopis. Jamur termasuk dalam kingdom fungi, jamur merupakan tumbuhan talus (thallophyta) yang tidak memiliki klorofil. Spora jamur yang jatuh ditempat yang lembab dan mengandung zat organik akan tumbuh menjadi benang-benang halus putih, yang disebut sebagai miselium atau hifa (hypae). Jamur yang akan kami teliti pada praktikum kali ini adalah jamur tempe, jamur oncom, jamur roti, jamur tiram, dan jamur kuping.

a. Mengidentifikasi jamur mikroskopis

Pada identifikasi jamur mikroskopis, ada tiga jamur yang akan kami gunakan yaitu jamur tempe, jamur oncom, dan jamur pada roti. Masing-maisng jamur ini kami teliti dengan menggunakan mikroskop. Jamur tempe adalah mikroorganisme semi anaerob dan orgenisme saprofit. Kelompok jamur yang paling berperan dalam pembuatan tempe adalah genus Rhizopus. Jamur Rhizopus sp telah diketahui sejak lama sebagai jamur yang memegang peranan utama pada proses fermentasi kedelai menjadi tempe. Jamur Rhizopus sp akan membentuk padatan kompak berwarna putih yang disebut sebagai benang halus/biomasa. Benang halus/biomasa disebabkan adanya miselia jamur yang tumbuh pada permukaan biji kedelai dan menghubungkan biji-biji kedelai tersebut.

Pengamatan secara mikroskopis Jamur Rhizopus terlihat mempunyai tiga tipe hifa yakni stolon (hifa yang membentuk jaringan pada permukaan substrat), rhizoid (hifa yang menembus substrat dan berfungsi sebagai jangkar untuk menyerap makanan) sporangiofor (hifa yang tumbuh tegak pada permukaan substrat dan memiliki sporangium globuler di ujungnya), dan miseliumnya tidak bersekat. Jamur ini memiliki spora yang berwarna coklat. Menurut Fardiaz (1989) jamur Rhizopus memiliki ciri-ciri sebagai berikut; hifa nonseptat, mempunyai stolon dan rhizoid yang warnanya gelap jika sudah tua, sporangiofora tumbuh pada noda dimana terbentuk juga rhizoid, sporangia biasanya besar dan berwarna hitam, kolumela agak bulat dan apofisis berbentuk seperti cangkir, membentuk hifa negatif yang melakukan penetrasi pada subtrat dan hifa fertil yang memproduksi sporangia pada ujung sporangiofora, pertumbuhannya cepat, dan membentuk miselium seperti kapas.

Jamur oncom adalah Neurospora sitophila (atau juga di kenal Neurospora crassa ) merupakan jenis jamur yang tergolong ke dalam Filum Ascomycota. Dari hasil pengamatan yang dilakukan jamur N. sitophila memiliki spora berbentuk seperti tepung atau akson, warna spora dominan oren dan hifa yang pendek dan tipis. Jamur Neurospora sitophila termasuk ke dalam kelas Ascomycetes. Ciri khas Ascomycota adalah cara perkembangbiakan seksualnya dengan membentuk askospora. Sedangkan, reproduksi aseksual terjadi dengan membentuk konidium. Konidium ini dapat berupa kumpulan sporatunggal atau berantai. Konidium merupakan hifa khusus yang terdapat pada bagian ujung hifa penyokong yang disebut konidiofor.

Jenis jamur yang banyak ditemukan pada pembusukan roti adalah Rhizopus stolonifer, Penicilium sp, Mucor sp, Geotrichum sp, dan Aspergilus sp. Jenis jamur pada roti yang kami teliti adalah jamur Aspergilus sp. Jamur ini memiliki hifa yang bercabang seperti pohon atau kipas dan miselium bercabang, sedangkan hifa yang muncul diatas permukaan merupakan hifa fertil, koloninya berkelompok, konidiofora berseptat, pada ujung hifa muncul sebuah gelembung, pada sterigma muncul konidum-konidium berwarna hijau tua, adapula yang hitam. Menurut Edyansyah (2013), jamur Aspergilus sp merupakan salah satu jamur yang menghasilka aflatoksin, yaitu toksin yang dapat mematikan manusia karena dapat menyebabkan kanker hati bila masuk ke dalam tubuh melalui makanan.

b. Mengidentifikasi jamur makroskopis

Pada identifikasi jammur secara makroskopis kami menggunakan dua jamur yaitu jamur tiram dan jamur kuping. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes. Setelah di amati tubuh buah berwarna putih hingga krem, tudungnya berbentuk setengah lingkaran serupa cangkang tiram dengan bagian tengah yang agak cekung. Tubuh buah jamur tiram memilki tangkai yang tumbuh menyamping. Terdapat lamella yang merupakan lembaran-lambaran yang terdapat dibawah tudung.

Jamur kuping merupakan salah satu kelompok jelly fungi yang masuk ke dalam kelas Basidiomycota. Fungi yang masuk ke dalam kelas ini umumnya makroskopis. Pengamatan pada jamur kuping (Auricularia auricula), miseliumnya bersekat dan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu : miselium primer (miselium yang sel-selnya berinti satu, umumnta berasal dari perkembang biakan basidiospora) dan miselium sekunder (hasil konjugasi dua miselium primer atau persatuan dua basidiospora). Tubuh buah kenyal jika dalam keadaan segar, namun keras pada keadaan kering. Auricularia auricula yang umumnya dikenal dengan jamur kuping, karena berbentuk melebar seperti kuping, dan berwarna coklat kehitaman.

BAB V PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan, maka dalam praktikum jamur dapat disimpulkan bahwa :

  1. Jamur tempe ( Rhizopus oryzae) merupaakan mikro organism semi anaerob dan organismsaprofit.
  2. Jamur oncom adalah Neurospora sitophila spora berbentuk seperti akson, warna spora dominan oren dan hifa yang pendek dan tipis.
  3. Jamur pada roti adalah Aspergilus sp dengan hifa yang berbentuk seperti kipas.
  4. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) berwarna putih, mempunyai tudung lebar, dan hifa tidak bersekat.
  5. Jamur kuping (Auricularia auricula) berbentuk seperti kuping, dengan miselium yang bersekat.

Daftar Pustaka

Adapun Daftar Rujukan Berbagai sumber diatas, adalah sebagai berikut:

  • Achmad. 2012. Jamur. Bogor: Agriflo.
  • Agrios, G. N. 1996. Plant Pathology 3rd Edition. Florida: Department of Plant Pathology.
  • Gandjar, I., W. Sjamsuridzal, dan A. Oetari. 2006. Mikologi Dasar dan Terapan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
  • Heddy.1987. Biologi Pertanian. CV Rajawali: Jakarta.
  • Nunung dan Abbas. 2001. Budidaya Jamur Kuping. Yogyakarta: Kanisius.
  • Parjimo & Andoko. 2007. Budidaya Jamur (Jamur Kuping, Jamur Tiram, dan Jamur Merang). Jakarta: Agromedia.
  • Pasaribu, Tahir dkk. 2002. Aneka Jamur Unggulan. Jakarta: PT Grasindo.
  • Rifai, M.A. 1995. The Biodiversity of Indonesian Microbial Diversity. Regional Workshop on Culture Collection of Microorganism in South Asia. Gadjah Mada University. Yogyakarta.
  • Zedan, H. 1992. The Economic Value of Microbial Diversity. IInd International Conference on Culture Collections. October, 12-16, Beijing. China.

Nilai Kualitas Artikel

Leave a Comment