Laporan Praktikum Permanganometri

Laporan Praktikum Permanganometri berikut ini merupakan laporan yang admin susun dari berbagai sumber dan referensi, semoga laporan ini dapat membantu pembaca semuanya.

BAB I PENDAHULUAN

Tujuan

Adapun tujuan dalam Praktikum Permanganometri ini yakni:

  • Untuk Menentukan kadar besi (Fe) dengan cara permanganometri

Latar Belakang

Permanganometri merupakan cara atau metode titrasi yang memakai bahan kalium permanganat. Zat kalium permanganat tersebut merupakan oksidator yang kuat yang dimanfaatkan sebagai titran. Dasar yang digunakan dalam titrasi ini ialah reaksi oksidasi dengan ion permanganat. Mangan bisa mempunyai keadaan oksidasi +2, +3, +4, +6, dan +7, sehingga reaksinya akan beranekaragam.

Titrasi ini biasanya dilakukan pada keadaan yang asam supaya lebih mudah dalam mengamati titik akhirnya. Yang bertindak sebagai indikator dalam titrasi ini adalah kalium permanganat. Fokus reaksi ini yaitu pada reaksi reduksi serta oksidasi yang terjadi antara bahan baku tertentu dengan KMnO4. Sebenarnya suatu reaksi dengan KMnO4 sudah sangat populer ratusan tahun yang lalu.

Pada umumnya titrasi akan dilakukan secara langsung dengan bahan yang mampu dioksidasi, salah satunya ialah Fe+. Pada praktikum ini akan dilakukan sebuah titrasi redoks dengan memakai bahan kalium permanganat (KMnO4) untuk mengukur kadar Fe. Dengan begitu, diharapkan dapat memahami cara menentukan kadar konsentrasi pada larutan tertentu.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Permanganometri

Permanganometri adalah sebuah titrasi yang didasarkan pada reaksi kalium permanganat (KMnO4). Prinsip yang dipakai dalam titrasi ini yakni berdasarkan reaksi reduksi dan reaksi oksidasi. Jadi dapat dikatakan bahwa permanganometri juga didasarkan pada reaksi redoks. Yang bertindak sebagai oksidator adalah ion MnO4 dan akan berubah menjadi ion Mn2+.

Pada umumnya metode titrasi yang satu ini dimanfaatkan untuk menentukan kadar besi atau oksalat dalam suatu sampel. Titran yang dipakai dalam permanganometri berupa kalium permanganat. Hal tersebut dikarenakan kalium permanganat mudah didapatkan dan tidak membutuhkan indikator.

Permanganat mampu memberikan warna merah muda yang sangat jelas pada suatu larutan meskipun hanya setetes. Warna merah muda tersebut bertujuan untuk menunjukkan bahwa dalam larutan kelebihan pereaksi.  Selain itu, timbulnya warna merah muda menandakan bahwa titrasi telah berakhir akibat kelebihan permanganat (Rahayu, 2012).

Berikut reaksi yang terjadi pada pembakuan kalium permanganat dengan memakai natrium oksalat:

5C2O4 + 2MnO4 + 16H+ → 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O

B. Kalium Permanganat

Kalium permanganat merupakan oksidator yang sangat kuat serta tidak membutuhkan indikator. Akan tetapi, kalium permanganat memiliki kelemahan apabila berada pada larutan HCl. Cl dapat teroksidasi serta kestabilannya akan menjadi terbatas.  Pada umumnya kalium permanganat dipakai pada medium yang asam, yakni:

MnO4 + 8 H+ + 5e Mn2+ + 4 H2O                  E° = 1,51 V

Reaksi oksidasi kalium permanganat  pada H2C2O4 berjalan sangat lambat ketika berada pada temperatur ruang. Sedangkan pada reaksi As (III) akan membutuhkan katalis. Permanganat memiliki titik akhir yang tidak permanen serta akan kehilangan warna karena adanya reaksi:

2 MnO4 + 3 Mn2+ + 2 H2 5 MnO2 + 4 H+

         ungu                               tidak berwarna

Larutan dalam air tidak stabil dan air teroksidasi dengan cara:

4 MnO4– + 2 H2 4 MnO+ 3 O2 + 4 OH

C. Prinsip Titrasi Permanganometri

Titrasi permanganometri didasarkan pada reaksi redoks, dimana yang bertindak sebagai oksidator ialah MnO4– . Pada suasana asam ion MnO4– akan berganti menjadi ion Mn2+. Pada umumnya titrasi permanganometri dimanfaatkan untuk menentukan kadar besi atau oksalat dalam sebuah sampel.

Titran yang digunakan dalam titrasi ini ialah kalium permanganat. Digunakannya kalium permanganat karena mudah didapatkan dan tidak membutuhkan indikator. Akan tetapi, jika yang digunakan merupakan larutan yang sangat encer maka dibutuhkan sebuah indikator.

Setetes permanganat dapat memunculkan warna merah muda yang sangat jelas ketika proses titrasi berlangsung. Warna merah muda yang muncul bermanfaat sebagai petunjuk bahwa suatu larutan telah kelebihan pereaksi (Arga, 2011).

D. Standar-standar Primer Permanganat

1. Natrium Oksalat

Senyawa natrium oksalat adalah standar primer yang bagus untuk permanganat ketika larutannya bersifat asam. Natrium oksalat bisa didapatkan melalui pemurnian yang tinggi, non higroskopis, dan pengeringan. Biasanya larutan harus dipanaskan hingga 60 °C karena pada suhu ruangan reaksi dengan permanganat berjalan lambat.

2. Besi

Standar primer yang digunakan pada metode permanganat dapat juga berupa besi. Akan tetapi, besi yang dipakai harus memiliki tingkat kemurnian yang sangat tinggi. Unsur besi dapat larut pada asam klorida yang encer. Pada proses pelarutan akan mengubah besi (III) menjadi besi (II).

Keberadaan besi sangat dibutuhkan untuk mempercepat jalannya oksidasi. Hal ini dikarenakan pada suhu ruang oksidasi ion klorida oleh permanganat sangat lambat.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Praktikum permanganometri ini dilakukan pada:

  • Hari : Sabtu
  • Tanggal : 31 Oktober 2020
  • Tempat : Laboratorium Kimia

B. Alat dan Bahan

Berikut ini merupakan alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum permanganometri ini:

Alat + Bahan

Alat

  • Buret
  • Statif dan klem
  • Penangas
  • Termometer
  • Gelas ukur
  • Erlenmeyer
  • Beaker glass
  • Pipet tetes
  • Corong
  • Bunsen
  • Kasa penangas air
  • Neraca digital
  • Batang spanduk
  • Spatula

Bahan

  • Kalium permanganat (KMnO4)
  • Asam Oksalat (H2C2O4)
  • Asam Sulfat (H2SO4)
  • Asam Fosfat (H3PO4)
  • Besi (III) Klorida (FeCl3)
  • Air (H2O)

C. Prosedur Kerja atau Cara Kerja

Berikut berbagai langkah dalam praktikum permanganometri:

1. Penyiapan Larutan KMnO4 0,05 N

  1. Timbang kristal KMnO4 sebanyak 0,79 gram dan masukkan ke dalam beaker glass.
  2. Menambahkan aquades atau air ke dalam beaker glass sampai 100 ml.
  3. Mengaduk larutan hingga rata dan tunggu sampai larutan mendidih.
  4. Pada saat sudah mendidih, segera dinginkan larutan.

2. Standarisasi Larutan KMnO4 0,05 N

  1. Memasukkan larutan H2C2O4 0,05 N sebanyak 10 ml ke dalam tabung erlenmeyer.
  2. Mencampurkan larutan H2SO4 1 N ke dalam 10 ml larutan H2C2O4 0,05 N.
  3. Menitrasi dengan menggunakan larutan KMnO4 sampai muncul warna merah muda yang stabil.
  4. Mencatat volume KMnO4 yang digunakan.
  5. Mengulangi percobaan minimal sebanyak 3 kali.
  6. Menghitung konsentrasi KMnO4.

3. Penentuan Kadar Besi (Fe)

  1. Memasukkan sampe Fe 0,01 N ke dalam erlenmeyer sebanyak 10 ml.
  2. Menambahkan 10 ml H2SO41 N dan 2 ml H3PO4 85%.
  3. Melakukan titrasi secara pelan-pelan dengan memakai larutan KMnO4 0,05 N sampai muncul warna merah muda yang stabil.
  4. Mencatat volume KMnO4 yang digunakan.
  5. Mengulangi percobaan minimal sebanyak 3 kali.
  6. Menghitung kadar Fe yang ada pada sampel.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Percobaan

1. Penyiapan Larutan KMnO4 0,05 N

Massa KMnO4 (gram)BM KMnO4 (gram/mol)Volume H2O (ml)Normalitas KMnO4
0,79 gram158 gram/mol100 ml0,05 N

2. Standarisasi Larutan KMnO4 0,05 N

3. Penentuan Kadar Fe

B. Pembahasan

Persamaan reaksi dalam pembuatan larutan KMnO4 0,05 N dengan melarutkan 0,79 gram pada 100 ml air ialah sebagai berikut:

MnO4– + 8 H+ + 5 e → Mn2+ + 4 H2O

Pada praktikum ini diperoleh KMnO4 dengan konsentrasi sebesar 0,0375 N. Percobaan standarisasi larutan KMnO4 bisa diralat sebesar 25%. Adanya ralat tersebut disebabkan oleh praktikan yang kurang teliti pada saat titrasi atau perhitungan dilakukan.

Penentuan kadar Fe yang dilakukan dalam percobaan ialah dari larutan FeCl3 0,01 N. Terdapat konsentrasi Fe serta dalam percobaan didapatkan konsentrasi Fe sebanyak 0,00167 N. Adapun persen ralat dalam penentuan kadar Fe, yakni sebesar 83,33% yang dikarenakan praktikan yang kurang teliti.

Berikut persamaan reaksi yang terjadi pada larutan KMnO4 dengan sampel Fe:

5 Fe2+ + MnO4 + 8 H+ → 5 Fe3+ + Mn2+ + 4 H2O

Besarnya persen ralat yang didapatkan dalam praktikum ini dikarenakan beberapa hal, yakni:

1. Larutan pentiter KMnO4 pada buret

Apabila waktu percobaan lama maka larutan KMnO4 yang ada dalam buret akan terurai menjadi MnO2. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh paparan sinar matahari. Dengan begitu, pada akhir titrasi akan didapatkan pembentukan prespirat dengan warna coklat. Seharusnya warnanya yang dihasilkan dalam titrasi ini adalah merah muda.

Persamaan reaksinya ialah:

MnO4– + 8H+ + 5e → Mn2+ + 4H2O

2. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan

Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan campuran antara H2C2O4 dan H2SO4 yang sebelumnya dipanaskan terlebih dahulu mengakibatkan terjadinya reaksi antara MnO4 dengan Mn2+.

2MnO4 + 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+

3. Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan

Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan campuran antara H2C2O4 dan H2SO4 yang sebelumnya dipanaskan akan menyebabkan kehilangan oksalat. Hal ini dikarenakan adanya pembentukan peroksida yang nantinya terurai menjadi air:

H2C2O4 + O2 ↔ H2O2 + 2CO2

BAB V PENUTUP

Kesimpulan

Pada Praktikum Permanganometri ini didapatkan beberapa kesimpulan, yaitu:

  1. Titrasi permanganometri harus dilakukan pada suasana yang cenderung asam agar tidak terjadi secara bolak-balik.
  2. Larutan KMnO4 mempunyai peran sebagai indikator yang otomatis. Hal ini dikarenakan larutan KMnO4 bisa membuat perubahan warna pada larutan yang sedang dititrasi sehingga tercapai keseimbangan.
  3. KMnO4 0,05 N dapat dibuat dengan cara melarutkan 0,79 gram pada 100 ml air.
  4. Standarisasi larutan KMnO4 dapat dilakukan dengan asam sulfat dan asam oksalat ketika suhu mencapai 75 derajat celcius. Pada standarisasi KMnO4 didapatkan konsentrasi KMnO4 sebesar 0,0375 N dengan penugasan 0,05 N serta ralat sebesar 25%.
  5. Didapatkan konsentrasi Fe sebesar 0,00167 N dengan konsentrasi penugasan 0,01 N serta ralat sebesar 83,33%.

Daftar Pustaka

Adapun Daftar Rujukan Berbagai sumber diatas, adalah sebagai berikut:

  • Arga, Puput. 2011. Titrasi Permanganometri. http://syadharzyarga.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 23 Maret 2014. 
  • Rahayu, leni. 2011. Hubungan Pendidikan Orang Tua Dengan Perubahan Status Stunting Dari Usia 6-12 Bulan Ke Usia 3-4 Tahun. http://lemlit.uhamka.ac.id/files/makalah7leni.pdf. Diakses 6 Mei 2012

Download Laporan Praktikum (PDF)

Anda Dapat Mendownload laporan Praktikum Praktikum Permanganometri ini dalam format PDF dengan mengklik tombol download dibawah ini.

Download / Unduh

Download File
PDF (89 KB)

Nilai Kualitas Artikel

Leave a Comment