Laporan Praktikum Reaksi Redoks

Laporan Praktikum Reaksi Redoks berikut ini merupakan laporan yang admin susun dari berbagai sumber dan referensi, semoga laporan ini dapat membantu pembaca semuanya.

BAB I PENDAHULUAN

Tujuan

Adapun tujuan dalam praktikum Reaksi Redoks ini, yakni:

  • Mengetahui beberapa reaksi redoks (reduksi oksidasi).

Latar Belakang

Kimia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan alam dan di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya seperti adanya Oksigen pada udara yang sesungguhnya adalah lingkaran dari proses kimia yang dilaksanakan oleh tumbuhan serta manusia dengan bantuan yang berasal dari matahari.

Tumbuhan akan memanfaatkan CO2 yang telah dibuang manusia untuk melakukan proses fotosintesis dengan menerima bantuan dari matahari. Kemudian proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan menghasilkan Oksigen dan dihirup manusia, selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk gas CO2 dan begitu seterusnya sehingga terbentuklah suatu siklus.

Bahkan proses kimia bisa dengan mudah dijumpai di lingkungan sekitar dan bisa dijelaskan menggunakan konsep reaksi redoks. Reaksi redoks bisa juga terjadi di berbagai industri selain yang sifatnya ilmiah, misalnya seperti industri pelapisan logam.

Contoh lain dari reaksi redoks yaitu perkaratan pada besi dan peristiwa oksidasi bisa dilihat dari warna daging apel yang berubah menjadi kecoklatan apabila dikupas. Sehingga bisa dikatakan bahwa reaksi redoks adalah pelepasan dan penggabungan Oksigen, penerimaan dan pelepasan elektron, serta berdasarkan perubahan bilangan oksidasi.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Titrasi Redoks

Berbagai titrasi redoks sebenarnya berdasarkan perpindahan elektron di antara analit dan titran. Pada jenis titrasi tersebut, pada umumnya memakai potensiometri untuk pendeteksian titik akhir.

Meskipun begitu, warna indikator yang digunakan bisa berubah dengan titran yang berlebihan dan sering juga dipakai. Sedangkan untuk titrasi yang menggunakan iodium bisa dilaksanakan dengan menggunakan 2 cara, yaitu iodometri (titrasi langsung) dan iodometri (titrasi tidak langsung) (Rohman, 2007).

Contoh reaksi reduksi oksidasi yang bisa ditemui di alam misalnya gram negatif batang yang ada di perairan teluk Manado. Pada umumnya, garam tersebut mempunyai sifat kemoorganotrof dan ada juga beberapa di antaranya mempunyai sifat kemolitoautotrof. Isolat pseudomonas yang mempunyai sifat kemoorganotrof memiliki kecenderungan kemampuan untuk melakukan reduksi terhadap ion-ion merkuri.

Kemudian garam yang bersifat kemoautotrof akan cenderung melakukan oksidasi merkuri. Kecepatan reaksinya sendiri pada ion merkuri sangat tergantung dengan tipe isolat yang dipakai. Pengaruh berbagai logam yang lainnya terhadap laju reduksi oksidasi maupun pertumbuhannya masih perlu dilakukan penelitian lebih mendalam (Ijonk, 2012: 71-72).

B. Bahan Pengoksidasi dan Pereduksi

Selain contoh yang sudah disebutkan di atas, di dalam reaksi redoks juga ada bahan pengoksidasi dan pereduksi. Kedua bahan tersebut sering dipakai untuk mendeskripsikan reaktan-reaktan tertentu yang ada di dalam reaksi reduksi oksidasi, misalnya seperti pada pernyataan logam kalsium merupakan bahan yang baik untuk pereduksi dan gas fluorin adalah bahan pengoksidasi yang kuat ketika digunakan.

Zat yang memungkinkan terjadinya zat lain mengalami oksidasi, disebut dengan bahan pengoksidasi atau bisa juga disebut dengan oksidan serta oksidator. Ketika melakukan percobaan tersebut, bahan pengoksidasi itu tereduksi dengan sendiri dan mengakibatkan zat yang lain tereduksi sehinggat disebut sebagai reduktan, bahan pereduksi, atau reduktor.

Pada reaksi, bahan pereduksi akan mengalami oksidasi sendiri atau bisa dikatakan oksidannya mengandung unsur bilangan oksidasi yang turun serta elektron yang didapatkan tereduksi. Sedangkan. Reduktan atau bahan pereduksi mengandung unsur bilangan oksidasi yang naik pada reaksi reduksi oksidasi serta elektron teroksidasi dilepaskan (Petrucci, 2011: 158).

C. Bilangan Oksidasi

Bilangan oksidasi merupakan besarnya jumlah muatan yang dimiliki oleh suatu atom pada senyawa ionik atau molekul, apabila elektron-elektron yang dimilikinya berpindah seluruhnya (Chang, 2003: 101).

Selain itu,bilangan oksidasi juga dapat diartikan bilangan positif atau negatif yang menunjukkan muatan sebuah spesi apabila elektronnya dianggap didistribusikan pada atom berdasarkan aturan-aturan tertentu.

Aturan distribusi secara ionik bagi spesi hetero kuliner, dengan artian elektron berpindah ke atom yang mempunyai sifat elektronegatif serta murni bagi spesies homo nuklir secara kovalen (Sugiyarto, 2002: 111).

Chang (2003: 102) menyampaikan bahwa bilangan oksidasi bisa ditentukan dengan memakai aturan di bawah ini:

  • Pada setiap atom yang mempunyai bilangan oksidasi nol di dalam unsur bebas. Contohnya seperti O2 dan H2O.
  • Untuk semua ion yang dibentuk atau tersusun dari suatu atom, bisa mempunyai bilangan sama seperti muatan ion yang dimilikinya. Contohnya yaitu pada unsur Li+ dengan bilangan oksidasi +1.
  • Bilangan oksidasi untuk sebagian besar senyawa yaitu -2, misalnya seperti MgO. Namun pada H2O2 (hidrogen peroksida) dan O2-2 (ion peroksida) bilangan oksidasinya yaitu -1.
  • Bilangan oksidasi yang dimiliki H (hidrogen) adalah +1, kecuali mempunyai ikatan dengan logam lainnya yang berbentuk biner seperti NaH dan LiH maka bilangan oksidasinya yaitu -1.
  • Bilangan oksidasi pada Flour adalah -1 pada semua senyawa halogen yang mempunyai bilangan oksidasi negatif, sebagai suatu ion halide di dalam senyawa yang dimiliki. Pada saat bergabungnya halogen dengan oksigen, misalnya seperti anion okso dan asam okso maka bilangan oksidasi yang dimiliki positif.
  • Jumlah bilangan oksidasi yang dimiliki semua atom penyusunnya bernilai nol dalam molekul netral.

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum reaksi redoks ini kami lakukan pada:

Hari: Rabu / 04 November 2020
Tempat: Laboratorium Kimia

B. Alat dan Bahan

Alat

Adapun alat dan bahan yang kami gunakan dalam Praktikum Reaksi Redoks ini, antara lain:

AlatJumlah
Rak tabung1 buah
Tabung reaksi3 buah
Klem1 buah
Pipet tetes4 buah
Gelas ukur 10 ml2 buah
Lap halus1 buah
Lap kasar1 buah
Labu spirtus1 buah
Korek Api1 bungkus
Tisue1 bungkus

Bahan

BahanBanyaknya
KMnO4 (Kalium permanganat)0,1 M
Na2S2O3 (Natrium tiosulfat)0,1 M
H2C2O  (Asam oksalat)0,1 M
FeSO4 (Ferro sulfat)0,1 M
H2SO4 (Asam sulfat)0,1 M

C. PROSEDUR KERJA ATAU CARA KERJA

Berikut di bawah ini berbagai langkah yang harus dilakukan dalam praktikum reaksi redoks di antarannya:

Langkah Kerja
  1. Tabung reaksi diisi dengan KmnO4, kemudian tambahkan dengan FeSO4 (Asam sulfat) encer sebanyak 1 ml.
  2. Ditambahkan FeSO4 (Ferro sulfat) sebanyak beberapa tetes, dan amatilah yang terjadi.
  3. Ulangilah perlakuan ke-1, tambahkan Na2S2O3 (Natrium tiosulfat) beberapa tetes. Amatilah yang terjadi.
  4. Ulangi lagi perlakuan pertama dan tambahkan H2SO4 (Asam sulfat). Amatilah yang terjadi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Percobaan

NoPercobaanHasil Pengamatan
1KMnO4 + H2SO4Berwarna ungu
2KMnO4 + H2SO4 + FeSOBerwarna ungu
3KMnO4 + H2SO4 + Na2S2O3Panas dan mempunyai warna ungu kecoklatan
4KMnO4 + H2SO4 + H2­C2O4Bergelembung, ada uap di dinding tabung, dan berwarna ungu

B. Pembahasaan

Adapun prinsip yang dipakai untuk percobaan ini adalah berdasarkan reaksi redoks, yaitu larutan KmnO4 yang bersifat oksidator berasal dari larutan sampel dan uji bersifat reduktor. H2SO4 dan KMnO4 yang dimasukkan ke dalam tabung reaksi masing-masing sebanyak 1 ml, KMnO4 sendiri mempunyai fungsi untuk pengoksidator sedangkan H2SO4 mempunyai fungsi sebagai katalis yaitu dipakai untuk mempercepat reaksi yang berjalan. Dari percobaan di atas, pencampuran H2SO4 dan KMnO4 diperoleh hasil bahwa larutan menjadi berwarna ungu.

Pada perlakuan yang pertama, tabung ke-1 berisi H2SO4 dan KMnO4 diberi tambahan larutan FeSO4 sebanyak beberapa tetes untuk dijadikan sebagai reduktor. Larutan yang pada mulanya berwarna ungu, tetap berwarna ungu setelah larutan tersebut ditambahkan larutan ferro sulfat beberapa tetes.

Hal itu dikarenakan ketika percobaan FeSO4 yang dimasukkan ke dalam KMnO4 berada pada suhu kamar, sehingga terjadi reaksi antara kalium permanganate dan ferro sulfat menghasilkan larutan berwarna ungu pada suhu kamar. Adapun reaksi yang dihasilkan dari percobaan ini di antaranya:

persamaan reaksi redoks 2 kmno h2so4

Reaksi reduksi yaitu KMnO4 → MnSO4

Sedangkan reaksi oksidasi adalah FeSO4 → Fe(SO4)3

Pada reaksi di atas, bisa dilihat bahwa larutan KmnO4 adalah zat yang mempunyai peran sebagai oksidator pada percobaan. Bilangan oksidasi pada unsur Mn mengalami penurunan 5, yaitu pada mulanya +7 berubah menjadi +2. Selain itu FeSO4 mempunyai peran sebagai reduktor karena bilangan oksidasi pada unsur Fe meningkat dari +2 menjadi +3.

Pada perlakuan ke-2, tabung ke-2 berisis larutan H2SO4 dan KMnO4 diberi tambahan larutan Na2S2O3 beberapa tetes. Larutan Na2S2O3 sendiri mempunyai fungsi sebagai zat yang teroksidasi (reduktor), sehingga larutan yang awal mulanya berwarna berwarna ungu berubah warna menjadi ungu kecoklatan dan terasa panas setelah ditambahkan larutan Na2S2O3. Terjadinya perubahan warna tersebut diakibatkan dari KMnO4 mengoksidasi Na2S2O3 yang bereaksi dengan H2SO4. Adapun reaksi yang terjadi di antaranya sebagai berikut:

persamaan reaksi redoks 8 kmno

Reaksi reduksi adalah KMnO4 →  MnSO4

Reaksi oksidasi yang terjadi yaitu Na2S2O3 → Na2SO4

Berdasarkan reaksi yang terjadi, bisa dilihat bahwa larutan KMnO4 adalah zat yang mempunyai peran sebagai oksidator karena bilangan oksidasi unsur Mn menurun dari +7 menjadi +2. Larutan Na2S2O3 berperan sebagai reduktor, bilangan oksidasi unsur Na meningkat dari sebelumnya +6 menjadi +8.

Pada perlakuan ke-3, tabung ke-3 yang berisi larutan H2SO4 dan KMnO4 ditambahkan H2C2O4 beberapa tetes mempunyai fungsi zat teroksidasi (reduktor). Tidak terjadi perubahan warna pada percobaan ke-3 setelah ditambahkan proses pemanasan dan H2C2O. Proses pemanasan mengakibatkan timbulnya uap di dinding tabung karena air yang terbentuk mengalami penguapan dan gelembung karena terbentuknya gas CO2. Reaksi yang terjadi pada percobaan ke-3 yaitu:

persamaan reaksi redoks 2kmno 8 h20

Reaksi reduksi yaitu KMnO4 →  MnSO4

Reaksi oksidasi adalah 5H2C2O4 →  CO2

Dari reaksi di atas bisa dilihat bahwa zat yang mempunyai peran sebagai oksidator adalah KMnO4, bilangan oksidasi unsur Mn dari +7 mengalami penurunan menjadi +2. Sedangkan zat yang mempunyai peran sebagai reduktor adalah unsur C, bilangan oksidasinya meningkat dari +3 menjadi +4.

BAB V PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil percobaan yang dilakukan, bisa diambil kesimpulan bahwa larutan KMnO4 adalah oksidator kuat apabila direaksikan dengan Na2S2O3, FeSO4, serta H2C2O.

Dalam hal ini KMnO4 bertindak sebagai oksidator pada reaksi yang terjadi. Sementara pada Na2S2O3, FeSO4, dan H2C2Oberperan sebagai zat yang teroksidasi atau reduktor. Hal itu dibuktikan dengan perubahan warna ungu menjadi ungu kecoklatan.

Daftar Pustaka

Adapun Daftar Rujukan Berbagai sumber diatas, adalah sebagai berikut:

  • Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
  • Ijong, Frans. 2011. Laju Reduksi Merkuri oleh Pseudomonas Diisolasi dari Perairan Pantai Teluk Manado. Jurnal Perikanan dan Kelautan. Vol. VII, No.2.
  • Petrucci, Ralph. 2011. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga
  • Rohman, Abdul. 2015. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
  • Sugiyarto, Kristian H. 2004. Kimia Anorganik Edisi Revisi. Jakarta: JICA.

Download Laporan Praktikum (PDF)

Anda Dapat Mendownload laporan Praktikum Reaksi Redoks ini dalam format PDF dengan mengklik tombol download dibawah ini.

Download / Unduh

Download File
PDF (90 KB)

Nilai Kualitas Artikel

Leave a Comment