Laporan Praktikum Respirasi Jangkrik

Laporan Praktikum Respirasi Jangkrik berikut ini merupakan laporan yang admin susun dari berbagai sumber dan referensi, semoga laporan ini dapat membantu pembaca semuanya.

BAB I PENDAHULUAN

Tujuan

Tujuan dari praktikum respirasi jangkrik ini adalah:

  • Memahami proses respirasi yang dialami oleh makhluk hidup, khususnya serangga (jangkrik).
  • Memahami faktor yang mempengaruhi jumlah sedikit atau banyaknya oksigen yang diperlukan oleh makhluk hidup.

Latar Belakang

Makhluk hidup pasti melakukan respirasi dalam kehidupan. Istilah awam untuk respirasi adalah proses pernapasan. Pengertian dari pernapasan adalah proses menghirup udara ke dalam tubuh kemudian mengeluarkan sisa udara yang sudah tidak terpakai dari dalam tubuh.

Sementara definisi kompleks dari respirasi adalah aktivitas pembakaran senyawa organik yang berlangsung di dalam sel guna menghasilkan tenaga untuk makhluk hidup. Pada dasarnya, pernapasan termasuk ke dalam proses respirasi.

Saat berolahraga atau melakukan aktivitas fisik yang berat, jantung berdetak lebih cepat dan memompa darah dengan lebih kuat. Hal ini dilakukan tubuh untuk menyesuaikan dengan besarnya energi yang diperlukan untuk menjalankan aktivitas tersebut.

Agar bisa terus berolahraga, tubuh manusia harus menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Di samping itu, makanan juga diperlukan untuk menjaga kondisi tubuh supaya tetap prima. Apabila kebutuhan makanan tak terpenuhi, manusia bisa pingsan.

Hal ini membuktikan bahwa manusia memerlukan makanan dan oksigen untuk dapat terus menjalankan aktivitas. Untuk memahami lebih dalam mengenai pernapasan dan respirasi, maka praktikum ini perlu dilakukan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Respirasi

Respirasi merupakan pertukaran gas yang terjadi antara atmosfer, darah, dan sel-sel di dalam tubuh makhluk hidup. Dalam respirasi terbagi menjadi tiga proses utama. Pertama, ventilasi paru-paru atau proses bernapas itu sendiri.

Prosesnya dilanjutkan dengan inspirasi atau mengalirkan udara masuk ke dalam darah. Kemudian diakhiri dengan ekspirasi atau mengeluarkan sisa-sisa zat yang tak terpakai dari paru-paru ke atmosfer.

Respirasi juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu respirasi eksternal untuk pertukaran gas pada paru dan darah. Jenis kedua adalah respirasi saringan yang berfungsi untuk menukarkan udara di darah dengan udara di seluruh tubuh. (Sorenaryo, 1999)

Sistem pernapasan pada hewan mencakup semua organ yang terlibat dalam proses pengambilan oksigen dari udara bebas. Sistem pernapasan hewan juga memiliki fungsi yang sama seperti pada manusia, salah satunya yaitu mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh.

Sistem respirasi juga berperan besar dalam membuang zat yang sudah tak diperlukan oleh tubuh ke dunia luar. Organ pernapasan pada hewan bermacam-macam, mulai dari kulit, insang, paru-paru, dan trakea.

Pada semua organ pernapasan yang telah disebutkan di atas pasti terdapat pembatas antara dunia luar dengan tubuh hewan. Pembatas umumnya berupa membran tipis. Membran ini memiliki sifat khusus yaitu permukaan relatif, vaskuler, tak pernah kering, dan permeabel (Suripto, 2000).

B. Respirasi Pada Serangga

Serangga atau kelompok hewan insekta rata-rata bernapas menggunakan trakea. Trakea adalah pembuluh yang sangat halus dan berjalan pada permukaan tubuh dan memiliki cabang menuju semua organ.

Trakea dilapisi oleh kitin dan berguna sebagai invaginasi pada dinding tubuh. Seperti yang sudah disebutkan, trakea bercabang dan berakhir pada sel-sel. Sel-sel tersebut kemudian meluas dan membentuk trakeola.

Terdapat cairan di setiap ujung trakeola. Cairan ini berfungsi sebagai alat transportasi bagi oksigen dan karbondioksida yang masuk dalam keluar dari tubuh serangga.

Bernapas kerap disamakan dengan respirasi. Padahal kedua istilah ini memiliki makna yang sangat berbeda. Proses pernapasan adalah menghirup udara (oksigen) dan menghembuskannya kembali karbondioksida serta uap air.

Sementara respirasi merupakan aktivitas oksidasi atau pembakaran bahan makanan yang terjadi di dalam sel untuk memperoleh energi. Hewan tingkat tinggi menggunakan alat pernapasan berupa paru-paru, insang, dan trakea.

Sedangkan hewan tingkat rendah bernapas menggunakan permukaan sel yang ada di tubuhnya. Proses pertukaran udara secara langsung ini disebut difusi.

Oksigen yang sudah ada di alat pernapasan harus diangkut lagi oleh cairan tubuh atau darah ke seluruh bagian tubuh. Selanjutnya, oksigen tersebut dipakai oleh tubuh untuk menghasilkan energi atau tenaga (Campbell, 2000).

Tenaga atau energi yang dihasilkan dari proses respirasi sangat dibutuhkan hewan untuk hidup. Contohnya adalah mengatur suhu tubuh dan beradaptasi, pertumbuhan, pergerakan, dan reproduksi.

Sebenarnya, proses pernapasan dan respirasi ini berhubungan sangat erat. Pernapasan yang dilakukan untuk menghirup oksigen diperlukan untuk proses respirasi. Saat proses tersebut selesai, gas buangnya dilepaskan ke udara melalui cara bernapas juga.

Khusus pada hewan tingkat rendah yang tidak memiliki alat pernapasan, distribusi oksigen bisa dilakukan dengan cara difusi. Karena hal inilah, istilah respirasi menjadi disamakan dengan pernapasan.

Dengan penjelasan tersebut, perbedaan antara pernapasan dengan respirasi ini tidak selalu mutlak. Beberapa hewan tertentu mempunyai alat pernapasan yang berperan untuk menghirup oksigen dari luar dan menghembuskan karbondioksida keluar.

Alat pernapasan pada hewan bisa berbeda-beda karena menyesuaikan dengan perkembangan anatomi serta struktur tubuhnya. Tempat hidup juga berpengaruh terhadap jenis alat pernapasan yang dimiliki oleh hewan.

Contohnya sapi sebagai hewan darat memiliki paru-paru untuk bernapas. Sementara burung yang harus terbang memiliki paru-paru berkantung udara. Katak yang bisa hidup di dua alam memiliki paru-paru dan kulit untuk bernapas. Ikan yang hidup di air menggunakan insang untuk bernapas.

Alat-alat pernapasan tersebut memiliki fungsi utama untuk memasukkan udara dan mengangkutnya ke seluruh tubuh. Jika alat untuk memasukkan udara ke tubuh tidak ada, oksigen bisa didapatkan dengan cara difusi. Metode ini biasa dijumpai pada hewan tingkat rendah.

Contoh hewan yang bernapas dengan cara difusi adalah cacing. Oksigen yang diserap oleh kulit kemudian langsung masuk ke pembuluh darah. Oksigen tersebut dipertahankan oleh pigmen darah atau hemoglobin (Syamsuri, 2003).

Baca Juga : Praktikum Respirasai Pada Tumbuhan

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum Respirasi Jangkrik ini kami lakukan pada:      

Waktu: Selasa / 03 November 2020
Tempat: Laboratorium Biologi

B. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang kami gunakan dalam Praktikum ini seabgai berikut:

Alat + Bahan

Alat

  • Respirometer.
  • Pipet tetes.
  • Penghitung waktu.

Bahan

  • KOH.
  • Vaselin.
  • Dua ekor jangkrik dengan jenis kelamin yang berbeda.
  • Larutan eosin.

C. Prosedur Kerja atau Cara Kerja

Berikut merupakan langkah kerja Praktikum Respirasi Jangkrik antara lain:

  1. Persiapkan seluruh alat dan bahan yang dibutuhkan.
  2. Timbang salah satu ekor jangkrik dan catat hasilnya.
  3. Ambil KOH dan kapas, gunakan kapas untuk membungkus KOH.
  4. Masukkan kapas tersebut ke tabung respirometer.
  5. Ambil jangkrik yang sudah ditimbang, masukkan ke dalam tabung respirometer.
  6. Sambungkan respirometer dengan tabung pipa ke bagian bawah respirometer tersebut.
  7. Beri vaselin pada sambungan pipa untuk mencegah udara masuk.
  8. Ambil pipet tetes lalu gunakan untuk mengambil larutan eosin. Teteskan cairan tersebut pada ujung pipa kapiler. Posisikan larutan eosin sudah berada pada titik 0.
  9. Perhatikan pergerakan larutan eosin pada pipa kapiler berskala setiap 120 detik.
  10. Lakukan langkah 2 sampai 9 pada jangkrik kedua.
  11. Bersihkan alat dan bahan serta kembalikan semua alat ke tempat semula.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Percobaan

Percobaan yang telah dikerjakan mengikuti langkah-langkah di atas menghasilkan data seperti di bawah ini.

Jangkrik Jantan, Massa Tubuh = 0.8 gram

NoWaktu (detik)Kecepatan (ml)
11200.9
22401.6
33602.5
44803.1

Jangkrik Betina, Massa Tubuh = 0.9 gram

NoWaktu (detik)Kecepatan (ml)
11203.8
22407.5
33609.0
 480 

B. Pembahasan

Dari pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan hasil pada 120 detik pertama, jangkrik betina menghirup udara 3,8 ml. Sementara jangkrik jantan hanya menghirup udara 0,9 ml.

Dilanjutkan pada 120 detik kedua, udara yang dihirup oleh jangkrik betina adalah 7,5 ml dan jantan hanya menghirup 1,6 ml.

Dua menit berikutnya, jangkrik betina telah menghirup 9 ml udara. Sementara jantan hanya memasukkan 2,5 ml udara ke tubuhnya. Di menit ke delapan, jangkrik betina telah menghirup total 9 ml udara. Sedangkan jangkrik jantan menghirup udara sebanyak 3,1 ml.

Perbedaan angka yang cukup besar ini dipengaruhi oleh ukuran tubuh jangkrik betina lebih besar daripada jantan. Secara otomatis, jangkrik betina membutuhkan lebih banyak udara. Semakin banyak udara atau oksigen yang masuk ke dalam tubuh jangkrik, proses respirasi akan lebih cepat terjadi.

Tak hanya faktor massa dan ukuran tubuh, jangkrik betina juga punya sistem hormon yang lebih kompleks dibandingkan jantan.

Pemakaian KOH bertujuan untuk pembentukan kristal pada percobaan ini sebagai pengikat gas hasil dari respirasi serangga. Gas yang dimaksud adalah COD yang dihembuskan keluar menuju ruangan respirometer. Reaksi kimianya bisa ditulis dalam rumus di bawah ini.

2KOH + CO2 → K2CO3 + H2O

Larutan eosin dipakai pada percobaan ini ditujukan untuk menampilkan skala oksigen yang dipakai pada proses respirasi jangkrik. Oksigen tersebut dihitung dari skala yang sudah ada melalui perpindahannya.

Ketika eosin berpindah atau bergerak, dapat diketahui bahwa jangkrik sedang memulai proses pernapasan yaitu menghirup oksigen dari respirometer. Kecepatan pernapasan yang terjadi setiap 120 detik atau 2 menit bisa disaksikan dari perpindahan yang terjadi dari skala titik awal hingga akhir.

Vaselin dipakai supaya udara yang sudah ada di dalam tabung respirometer tidak bisa keluar dan udara yang di luar juga tak dapat menyusup ke dalam. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil praktikum yang akurat dan mengurangi kesalahan.

Respirometer dipakai untuk mengukur respirasi dari hewan, dalam hal ini jangkrik. Alat ini dapat menunjukkan jumlah oksigen yang diperlukan makhluk hidup beserta faktor-faktor pengaruhnya. Prinsip kerja respirometer mengikuti cara pernapasan makhluk hidup pada umumnya.

Organisme bernapas memerlukan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Apabila makhluk hidup diletakkan di dalam ruangan tertutup dan karbondioksida dari makhluk hidup tersebut diikat, maka yang akan terjadi adalah penyusutan udara.

Penjelasan di atas bisa dirangkum dalam sebuah rumus kimia.

C6H12O6 + O2  6CO2 + H2O + Energi

BAB V PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum respirasi jangkrik dan pembahasan di atas, kesimpulan yang dapat diambil adalah:

  1. Respirasi adalah tahapan yang memakai karbohidrat serta oksigen guna menghasilkan tenaga. Sementara zat sisa yang dibuang berupa uap air dan karbondioksida.
  2. Ada 6 faktor yang sangat berpengaruh terhadap proses respirasi pada makhluk hidup antara lain emosi, aktivitas, suhu di sekitar, usia, jenis kelamin, dan massa tubuh.

Daftar Pustaka

Adapun Daftar Rujukan Berbagai sumber diatas, adalah sebagai berikut:

  • Campbell, Neil A.2000.Biologi.Jakarta : Erlangga.
  • Soenaryo.1999.Anatomi dan Fisiologi Makhluk Hidup.Malang: MSREP-SKA.
  • Suripto. 2000. Struktur Hewan. Jakarta : Universitas Terbuka.
  • Syamsuri. 2003. Biologi Jilid 2B untuk SMA Kelas IX Semester 2. Jakarta : Erlangga.

Download Laporan Praktikum (PDF)

Anda Dapat Mendownload laporan Praktikum Respirasi Jangkrik ini dalam format PDF dengan mengklik tombol download dibawah ini.

Download / Unduh

Download File
PDF (99 KB)

Nilai Kualitas Artikel

Leave a Comment