Laporan Praktikum Respirasi

Laporan Praktikum Respirasi berikut ini merupakan laporan yang admin susun dari berbagai sumber dan referensi, semoga laporan ini dapat membantu pembaca semuanya.

BAB I PENDAHULUAN

Tujuan

Tujuan Praktikum

Mengetahui perbandingan tentang kebutuhan Oksigen pada beebrapa makhluk hidup berdasarkan ukuran berat badan tubuh dan jenisnya.

Latar Belakang

Makhluk hidup mempunyai berbagai ciri-ciri yang dapat membedakannya dengan yang lain, salah satu contohnya yaitu bernafas atau yang sering disebut dengan respirasi. Misalnya seperti manusia yang termasuk ke dalam kelompok makhluk hidup, bernapas menggunakan paru-paru. 

Tidak hanya manusia saja, makhluk hidup lainnya seperti tumbuhan pun membutuhkan respirasi. Tetapi perlu diketahui juga bahwa hampir setiap makhluk hidup mempunyai caranya masing-masing dalam melakukan respirasi.

Secara biologis, respirasi diartikan proses pembakaran atau pembongkaran zat sebagai sumber energy yang berada di dalam sel-sel tubuh untuk mendapatkan tenaga atau energi. Proses reaksi biokimia tersebut membutuhkan Oksigen (O2), untuk melakukan oksidasi terhadap berbagai zat makanan. Kemudian proses ini bertujuan menghasilkan sebuah energi yang dibutuhkan oleh tubuh setiap makhluk hidup untuk beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari, misalnya seperti tumbuh, bereproduksi, dan bergerak.

Pada saat respirasi, tumbuhan pun menyerap Oksigen untuk bernapas dan pada umumnya diserap melalui stomata. Tumbuhan akan melakukan respirasi aerob, apabila berada dalam kondisi aerob. Begitu juga sebaliknya, tumbuhan akan melakukan respirasi secara anaerob jika dalam keadaan kekurangan Oksigen (anaerob) misalnya ketika akar tumbuhan tergenang air. 

Makhluk hidup yang beragam baik dari spesies atau jenisnya, mempunyai pengaruh terhadap perbedaan sistem respirasi baik kualitas maupun kuantitasnya. Kebutuhan Oksigen pada masing-masing makhluk hidup akan berbeda-beda, karena adanya pengaruh dari berbagai faktor eksternal maupun internal. 

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Respirasi

Respirasi merupakan proses bertukarnya gas O2 dan CO2, yaitu udara akan masuk ke dalam paru-paru melalui proses yang disebut dengan inspirasi kemudian dikeluarkan melalui ekspirasi. Interkostal internal dan eksternal, serta diafragma adalah otot yang membantu di dalam proses respirasi. 

Pada saat inspirasi, diafragma berkontraksi ke arah bawah dan mengakibatkan peningkatan volume pada rongga thorax, sehingga menjadikan udara masuk ke dalam paru-paru dengan cepat. 

Otot interkostalis eksterna membantu pada saat terjadinya proses inspirasi, yaitu dengan cara tulang iga digerakkan ke atas. Selama proses ekspirasi pun, diafragma melakukan relaksasi untuk bergerak melawan atau menuju paru-paru, volume rongga pada thorax dikurangi, serta hal ini pun memaksakan udara untuk keluar dari paru-paru. (Lyrawati, 2012).

B. Pengaruh Respirasi Terhadap Fotosintesis

Hasil fotosintesis tumbuhan yang digunakan pada suatu proses akan mengurangi penggunaannya ketika proses lainnya serta suhu juga bisa berpengaruh terhadap hal tersebut. Peningkatan respirasi akan meningkatkan pembongkaran hasil fotosintesis, sehingga bisa mengakibatkan penggunaan hasil fotosintesis yang dipakai untuk cadangan makanan dan dan pertumbuhan akan menurun. 

Selain itu, terjadinya peristiwa fotorespirasi pun mengakibatkan hasil fotosintesis berkurang. Pada saat laju respirasi dan laju fotosintesis seimbang, berakibat pada tidak adanya hasil fotosintesis yang dipakai untuk cadangan makanan dan pertumbuhan. (Sugito pada Lestari, 2006)

C. Mekanisme Pernapasan pada Serangga

Salah satu contoh serangga seperti belalang mempunyai mekanisme pernapasan yaitu apabila otot pada perut belalang mengalami kontraksi, trakea akan menjadi pipih sehingga udaranya akan kaya terhadap kandungan COakan keluar ketika berkontraksi. 

Begitu juga sebaliknya, trakea akan kembali ke volume semula pada saat otot perut belalang melakukan relaksasi, sehingga tekanan udaranya menjadi lebih kecil daripada tekanan yang ada di luar. Hal itu mengakibatkan udara yang kaya akan O2 masuk menuju trakea. 

Sistem di trakea sendiri mempunyai fungsi untuk mengangkut dan mengedarkan O2 ke seluruh tubuh, serta mengangkut hasil respirasi berupa CO2 untuk dikeluarkan dari dalam tubuh. Darah pada serangga pun dengan demikian hanya mempunyai fungsi mengangkut sari makanan, serta buka mengangkut gas-gas pernapasan. (Yudiarti, 2004)

D. Senyawa yang Berperan pada Respirasi

Senyawa lain selain karbohidrat pada beberapa jaringan tumbuhan, terkadang bisa mempunyai peran sebagai substrat respirasi. Bahkan pada biji-bijian tertentu seperti jarak, banyak lemak yang terkandung di dalamnya digunakan sebagai bahan cadangan. Lemak tersebut berada di dalam jaringan endosperma yang berada di sekeliling embrio. 

Selama beberapa hari pertama tumbuhan mengalami perkecambahan, beberapa lemak akan diubah menjadi sukrosa, kemudian diserap dan dilakukan direspirasi oleh embrio yang sedang mengalami pertumbuhan. Metabolisme respirasi pada endosperma berasal dari biji-bijian yang mengandung lemak serta sedang berkecambah. 

Perkecambahan tersebut terutama dari hasil penguraian lemak berubah menjadi lemak sukrosa. Sedangkan embrio yang dalam keadaan sedang tumbuh akan melakukan respirasi sukrosa diubah menjadi CO2 dan H2O. Perubahan dari lemak menjadi sukrosa tersebut pada jaringan biji endospermanya yang mempunyai kandungan lemak. (Sasmitamihardja, 1996)

E. Respirasi pada Hewan

Hewan memperoleh Oksigen dari lingkungannya biasanya dipakai di dalam proses yang disebut dengan fosforilasi oksidatif yang berguna untuk menghasilkan ATP. Hewan sendiri sebenarnya dapat menghasilkan ATP tanpa adanya Oksigen, proses ini pun dikenal dengan sebutan proses anaerob. 

Suatu molekul glukosa di dalam proses anaerob hanya akan menghasilkan molekul ATP sebanyak 2, sementara pada proses aerob molekul yang sama dapat menghasilkan 36 atau bisa juga sebanyak 38 molekul atp. 

Hal itulah yang menyebabkan hamper seluruh hewan sangat bergantung terhadap proses respirasi aerob yang merupakan pembentukan dari atp. Respirasi sel secara internal memberikan hasil zat sisa berupa CO2 dan H2O. kedua zat tersebut harus dikeluarkan dengan segera dari dalam sel. (Isnaeni, 2006)

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang akan kita gunakan dalam praktikum respirasi ini diantaranya sebagai berikut:

Alat

  1. Satu set peralatan respirometer yang simple
  2. Spoit sebanyak 1 buah
  3. 1 buah Stopwatch

Bahan

  1. KOH Kristal
  2. Kapas
  3. Vaseline
  4. Kacang hijau sebanyak 10 buah
  5. Larutan Eosin
  6. 1 ekor belalang berukuran kecil
  7. 1 ekor belalang berukuran besar

B. Langkah Kerja

Dibawah ini terdapat 2 langkah atau prosedur kerja dalam praktikum respirasi ini adalah sebagai beriku:

1. Percobaan ke-1

  • Ambil belalang berukuran besar
  • 1 butir KOH Kristal dibungkus menggunakan kapas tipis, kemudian dimasukkan ke tabung respirometer. 
  • Belalang dimasukkan pada tabung respirometer.
  • Tabung respirometer ditutup menggunakan penutupnya, yang sudah berhubungan langsung dengan pipa berskala.
  • Kemudian diolesi mengunakan Vaseline pada bagian sambungan respirometernya, dengan memakai penutup untuk melakukan pencegahan terhadap kebocoran.
  • Tabung respirometer diletakkan pada tempat sandarannya.
  • Pipa kaca berskala ditetesi dengan suatu larutan eosin hingga masuk ke dalam salurannya. 
  • Pergeseran eosin diamati di sepanjang saluran pipa berskala, lalu dicatat pada jaraknya dengan dimulai dari 0,0 pada setiap 1 menit sampai dengan 5 menit.
  • Setelah pengamatan dilakukan selama 5 menit, belalang kemudian dikeluarkan dari dalam tabung respirometer.
  • Langkah kerja mulai dari b sampai dengan g untuk melakukan pengamatan terhadap belalang berukuran kecil.

2. Percobaan ke-2

  • Tabung respirometer sederhana yang telah dipakai kembali dibersihkan
  • Percobaan ke-2 dilakukan berurutan sama seperti percobaan pertama, dengan memakai kecambah kacang hijau yang telah dikuliti dan belum dikuliti. 

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Hasil praktikum respirasi ini kami susun dalam tabel, terlihat seperti dibawah ini:

1. Tabel 1. Perbandingan di antara makhluk hidup yang sama dengan massa yang berbeda

Menit ke

Penunjukan skala

Belalang besar

Belalang kecil

1

0,40

0,26

2

0,60

0,40

3

0,72

0,57

4

0,80

0,70

5

0,90

0,86

2. Tabel 2. Perbandingan antara tumbuhan dengan hewan

Menit ke

Penunjukan skala

Kecambah dikupas

Belalang besar

1

0,06

0,40

2

0,16

0,60

3

0,21

0,72

4

0,30

0,80

5

0,37

0,90

B. Analisis Data

Seluruh data yang diperoleh dari hasil pengamatan, diproses dengan rumus sebagai berikut:

rumus praktikum respirasi

Sehingga diperoleh data sebagai berikut:

1. Belalang berukuran besar

rumus praktikum respirasi belalang ukuran besar

2. Belalang ukuran kecil

rumus praktikum respirasi belalang ukuran kecil

3. Kecambah yang dikupas

rumus praktikum respirasi kecambah yang dikupas

4. Kecambah yang tidak dikupas

rumus praktikum respirasi kecambah yang tidak dikupas

C. Analisis Grafik

1. Makhluk hidup yang sama namun dengan massa yang berbeda

Makhluk hidup yang sama namun dengan massa yang berbeda

2. Perbandingan di antara kecambah tidak kupas dan tidak dikupas

Perbandingan di antara kecambah tidak kupas dan tidak dikupas

3. Perbandingan di antara tumbuhan dan hewan

Perbandingan di antara tumbuhan dan hewan

B. Pembahasan

1. Perbandingan terhadap laju respirasi belalang berukuran kecil dan belalang besar

Dua makhluk hidup sejenis yang dibandingkan dengan ukuran tubuh berbeda, yaitu belalang kecil dan besar. Berdasarkan pada pengamatan yang telah dilakukan, data yang diperoleh di antaranya bahwa belalang mempunyai kecepatan rata-rata respirasi sebesar 0,264% skala per menitnya, serta belalang kecil 0,199 skala per menitnya. 

Hal tersebut menunjukkan bahwa belalang mempunyai kecepatan respirasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan belalang dengan tubuh kecil.

2. Perbandingan antara laju respirasi kecambah kupas dan tidak dikupas

Kecepatan respirasi kecambah dengan kulit yang dikupas adalah 0,072 per menitnya, sedangkan kecambah yang tidak dikupas kulitnya mempunyai kecepatan sebesar 0,047 skala per menitnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa data yang diperoleh dari praktikum respirasi adalah kulit bisa memperkecil kecepatan respirasi yang terjadi pada kecambah.

3. Perbandingan laju respirasi pada hewan dan tumbuhan

Diperoleh hasil pengamatan bahwa kecambah dengan kulit dilepas memiliki kecepatan respirasi sebesar 0,072 skala per menit, dan belalang berukuran besar yaitu 0,264 skala per menit. Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan Oksigen pada hewan lebih banyak daripada tumbuhan.

BAB V PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan pada praktikum yang telah dilaksanakan, dapat diambil kesimpulan di antaranya sebagai berikut:

  • Setiap makhluk hidup membutuhkan Oksigen untuk respirasi, karena Oksigen dipakai untuk pengoksidator makanan pada tubuhnya untuk diubah menjadi sebuah energi.
  • Setiap makhluk hidup mempunyai kebutuhan Oksigen yang berbeda-beda sesuai dengan spesies, tubuh, kelengkapan organ tubuh, serta aktivitasnya.

Daftar Pustaka

Adapun Daftar Rujukan Berbagai sumber diatas, adalah sebagai berikut:

  • Lestari EG. 2008. Kultur Jaringan. Menjawab Persoalan Pemenuhan Kebutuhan Akan Peningkatan Kualitas Bibit Unggul dan Perbanyakannya Secara Besar-besaran. Akademia.
  • Lyrawati, Giyatmi Wahyu. 2006. Pertumbuhan, Kandungan Klorofil, dan Laju Respirasi Tanaman Garut setelah Pemberian Asam Giberalat. Surakarta: FMIPA UNS.
  • Yuliandri, F., Utama, Y.D., Buchori, L. 2013. Biofiksasi CO2 Oleh mikroalga Spirullina Sp. Dalam Upaya Pemurnian Biogas. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol.2 No.4, Jur. Teknik Kimia UNDIP, Hal. 125-131.

Download Laporan Praktikum (PDF)

Anda Dapat Mendownload laporan praktikum respirasi ini dalam format PDF dengan mengklik tombol download dibawah ini.

Download / Unduh

Download File

PDF (110 KB)

Originally posted 2020-10-27 22:00:00.

Nilai Kualitas Artikel

Leave a Comment